Makalah Ini Disusun Sebagai Tugas Kelompok Pada Mata Kuliah
Metodologi Pendidikan Islam
Disusun oleh:
Syawaluddin (0829012)
Awaluddin (0829017)
Meilanda sari (0829005)
Ismasari (0829007)
Dosen pembimbing:
Leni Marlina, M.pd
FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN FATAH
PALEMBANG
2009
BAB I
PENDAHULUAN
Sebuah lembaga kependidikan yang baik maka dibutuhkan tenaga pengajar yang professional atau yang baik pula. Mengerti dengan semua kebutuhan peserta didiknya dan mampu menumbuhkan semangat yang kuat dalam jiwa mereka. Tenaga pengajar yang bagaimana yang bisa membuat siswanya selalu tertarik setiap kali guru itu mengajar? Hal ini kerap kali terungakap oleh peserta didik yang mana peserta didik itu memang benar-benar mengaharapkan gurunya itu mampu membuat dia selalu semangat dalam belajar.
Maka lembaga kependidikan sudah seharusnya memperhatikan apa yang memang seharusnya dibutuhkan, agar lembaga yang dijalankan tidak sia-sia begitu saja dan lembaga kependidikan itupun mampu mencapai tujuannya dengan sebaik mungkin.
Memang tidak mudah untuk memenuhi segala yang dibutuhkan. Akan tetapi setidaknya dari tenaga pengajar mampu menguasai materi pembelajaran dengan baik, mengerti akan metode-metode pembelajaran. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan dan dipelajari untuk bisa menjadi tenaga pengajar yang profesional.
Bagaimana cara mengajar yang baik dan benar? Metode apa saja yang harus dipakai dalam mencerdaskan peserta didik? Seorang guru harus terlebih dahulu menguasai materi pembelajaran beserta metode-metodenya dengan tujuan membangun lebih baik lembaga kependidikan dan mampu menimbulkan semangat yang kuat dalam jiwa siswa.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Metode dalam proses pendidikan Islam
Dalam prosese pendidikan Islam, metode mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya pencapaian tujuan yang diinginkan, karena ia menjadi sarana yang membermaknakan materi pelajaran yang tersusun dalam kurikulum pendidikan sedemikian rupa, sehingga dapat dipahami atau diserap oleh anak didik serta menjadi pengertian-pengertian yang fungsional terhadap perilakunya.
Tanpa adanya metode pembelajaran, maka materi pelajaran tidak akan dapat berproses secara efektif dan efisien dalam kegiatan belajar mengajar menuju tujuan pendidikan.
Jadi, seorang pendidik itu harus memiliki langkah-langkah khusus dalam menyampaikan materi pendidikannya agar mudah dimengerti oleh siswanya. Itulah mengapa metode pembelajaran mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam proses pendidikan Islam, agar maksud dan tujuan dari materi yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik oleh siswa. Misalkan, ada seorang guru yang menyampaiakan materi tentang berpuasa, jika ia menyampaikan materi itu dengan metode yang sulit untuk dipahami oleh siswa, maka siswa tersebut akan takut untuk melaksanakanya. Sebaliknya, jika seorang guru memberikan materi pelajaran tentang puasa itu melalui metode yang sesuai dengan kebutuhan siswa tersebut, maka mereka akan mengerjakan puasa itu dengan benar dan senang.
B. Metode-Metode pembelajaran
Untuk mencapai tujuan pendidikan yang baik, maka harus ada tenaga pengajar yang baik pula, yang mengerti akan tatacara dalam pembelajaran. Berikut ada bebrapa metode yang dapat diterapkan dalam proses belajar, yaitu:
1. Metode Tanya Jawab
Metode Tanya jawab ialah suatu metode dalam pendidikan dan pengajaran, di mana pendidik bertanya sedangkan peserta didik menjawab tentang bahan materi yang diperoleh.
Yang dimaksud dengan metode Tanya jawab adalah cara menyajikan materi pelajaran dengan jalan guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada siswa untuk dijawab. Bisa pula diatur pertanyaan-pertanyaan yang dijukan oleh siswa lalu dijawab oleh siswa lainnya.
Metode Tanya jawab adalah suatu cara mengajar di mana seorang guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada murid tentang bahan pelajaran yang telah diajarkan atau bacaan yang telah mereka baca, sedangkan murid memberikan jawaban berdasarkan fakta.
Jadi, metode Tanya jawab di sini adalah suatu sistem belajar di mana seorang guru menjelaskan materi pelajaran secara jelas kepada siswanya, kemudian seorang guru mengajukan pertanyaan kepada siswanya, lalu siswa bertanya dan guru menjawab pertanyaan itu dengan mendetil sehingga siswa itu sudah merasa paham dengan apa yang dipertanyakannya, akan tetapi pertanyaan-pertanyaan itu bisa juga dijawab oleh temen-temennya yang sudah mengerti dengan apa yang dipertanyakan berdasarkan dengan apa yang telah mereka baca dan yang telah mereka dapati sesuai fakta.
1) Syarat-Syaratnya
Dalam metode tersebut, terdapat beberapa syarat antara lain, yaitu:
a) Pendidik harus menguasi maslahnya, maksudnya di sini adalah bahwasannya seorang guru itu harus memiliki keprofesionalan dalam mengajar.
b) Susunlah pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, mksudnya adalah seorang guru harus lebih dahulu mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada siswanya.
c) Memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk mengajukan pendapat atau kritiknya, berarti seorang siswa tidak ada batasan untuk menyampaikan argumennya.
d) Pertanyaan-pertanyaan tetap pada pokok permasalahan. Maksudnya, pertanyaan yang diajukan oleh siswa tidak menyimpang dari materi yang telah dipelajari.
2) Keunggulannya
a) Dengan pertanyaan yang bersifat membangkitkan minat inisangat penting bagi motivasi belajar
b) Mempererat hubungan keilmuan antara pendidik dengan peserta didiknya
c) Melatih peserta didik mengeluarkan pendapatnya secara merdeka, sehingga pelajaran akan lebih menarik
d) Sebagai sarana evaluasi awal terhadap prestasi peserta didik
e) Melatih peserta didik untuk benar-benar menyiapkan bahan pelajaran dan mencintai pekerjaannya.
3) Kelemahannya
a) Apabila terjadi perbedaan pendapat maka, membutuhkan waktu yang banyak guna penyelesaianya
b) Mudah menjurus kepada masalah yang tidak dibahas
c) Bila pendidik kurang waspada maka perdebatan bisa beralih pada persaingan dan sintimen pribadi
d) Tidak semua peserta didik dapat mengajukan pendapatnya
e) Sering terjadi perbedaan pendapat antara pendidik dengan peserta didiknya.
2. Metode Diskusi
Metode diskusi adalah suatu cara penyajian pembelajaran di mana pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didiknya/membicarakan dan menganalisis secara ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternative pemecahan atas suatu masalah.
Metode diskusi merupakan salah satu cara yang dapat digunakan dalam penyelesaian masalah, yang mungkin menyangkut kepentingan bersama, dengan jalan musyawarah untuk mufakat. Dengan kata lain metode diskusi yaitu cara bagaimana menyajikan bahan pelajaran melalui proses pemeriksaan, dengan meneliti suatu masalah tertentu dengan jalan bertukar pikiran dan mengambil suatu kesimpulan yang dapat ditarik daripadanya.
Mahfud Shalahuddin, dkk. Dalam Yunus Namsa mendifinisikan bahwa metode diskusi ialah suatu kegiatan kelompok dalam memecahkan masalah untuk mengambil kesimpulan.
Metode diskusi dalam pendidikan adalah suatu cara penyajian/penyampaian bahan pelajaran, di mana guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengadakan pembicaraan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai masalah alternative pemecahan atas sesuatu masalah.
Jadi, metode diskusi ialah suatu cara penyajian/penyampaian materi pelajaran yang terbentuk dalam suatu forum atau kelompok-kelompok yang lebih kecil melalui cara tukar menukar informasi atau dengan mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan untuk memecahakan atas sesuatu masalah.
Tujuan Diskusi:
Melalui metode diskusi, tujuan pengajaran selain untuk mencari dan menemukan jawaban yang benar dan setepat-tepatnya juga dimaksudkan untuk:
a) Dapat menemukan cara untuk penyelesaian masalah
b) Mengumpulkan fakta dan pendapat-pendapat ddari para peserta atau pihak yang dimintai keterangan
Fungsi Diskusi:
a) Mendorong siswa untuk berpikir dan mengeluarkan pendapatnya dengan dasar argumentasi yang kuat dan akurat
b) Mengembangkan daya imajinasi serta daya piker yang kritis
c) Disamping itu diskusi dapat berfungsi sebagai bahan masukan ang sngat berharga bagi seorang guru
Keunggulan dari metode diskusi
a) Suasana dalam kelas lebih hidup dan dinamis
b) Mempertinggi partisipasi siswa, untuk mengeluarkan pendapatnya baik secara individu maupun secara kelompok
c) Merangsang siswa untuk mencari jalan pemecahan masalah yang dihadapi bersama, dengan cara bermusyawaran dan urun rembuk bersama-sama
d) Melatih sikap dimanis dan kreatif dalam berpikir
e) Menumbuhkan sikap toleransi dan dalam berpendapat dan bersikap
f) Hasil diskusi dapat disimpulkan dan mudah dipahami
g) Memperluas cakrawala dan wawasan berpikir peserta diskusi.
Kelemahan dari metode diskusi
a) Kemungkinan siswa yang tidak ikut aktif dijadikan kesempatan untuk bermain-main, dan mengganggu teman-temannya yang lain
b) Apabila suasana kelas tidak bisa dikuasai, kemungkinan penggunaan waktu tidak efektif, dan dapat berakibat tujuan pengajaran tidak tercapai.
c) Sulit memprediksi arah penyelesaian diskusi. Hal ini terjadi jika proses jalannya diskusi dijadikan ajang perbedaan pendapat yang tidak ada ujung penyelesaiannya.
d) Siswa mangalami kesulitan untuk mengeluarkan pendapat secara sistematis. Terutama bagi siswa yang pemalu dan rasa takut mengeluarkan pendapat.
3. Metode Mudzakaroh
Metode mudzakaroh merupakan suatu pertemuan ilmiah yang secara spesifik membahas masalah diniyah seperti aqidah, ibadah dan masalah agama pada umumnya. Aplikasi metode ini dapat membangkitkan semangat intelektual santri, mereka diajak ilmiah dengan menggunakan penalaran-penalaran yang disandarkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah serta kitab-kitab Islam klasik, namun penerapan metode belum bisa berlangsung secara oftimal ketika santri membahas besar-kecilnya suatu pesantren yang ternyata menempuh sikap berlainan dalam penerapan metode pendidikan dan pengajaran.
Kelemahan dalam metode ini adalah peserta didik kurangnya informasi tentang ilmu pengetahuan umum, dan seketika santri membandingkan besar kecilnya suatu pesantren dalam metode belajar maka yang akan terjadi adalah penerapan metode yang tidak bisa diterapkan secara oftimal.
Keunggulan dari metode ini adalah menjadikan santri benar-benar memahami akan ilmu-ilmu yang membahas masalah diniyah. Metode ini juga dapat membangkitkan semangat intelektual santri kerena secara ilmiah penalaran mereka disandarkan dalam Al-Qur’an dan Hadits.
Jadi, yang dimaksud dengan metode ini adalah suatu pembahasan mengenai masalah diniyah yang mana aplikasinya dapat membangkitkan semangat intelektual santri, akan tetapi jika seorang santri memabahas besar-kecilnya suatu pesantren yang mana cara penerapan dan pengajarannya yang berbeda maka penerapan metode tidak bisa berlangsung dengan oftimal.
4. Metode Kishoh
Metode kishah ialah suatu cara mengajar di mana guru memberikan materi pembelajaran melalui kisah atau cerita.
Keunggulannya adalah siswa dapat memperoleh informasi langsung dari guru tanpa harus berpikir, menulis, dan membaca lagi, dan semangat untuk mengubah paradigma berpikir yang kurang baik bisa dirubah, dengan adanya cerita-cerita yang bermanfaat maka siswa akan mendapatkan pembelajaran yang dapat membangun jiwa dan akhlaq mereka menjadi lebih baik.
Kelemahannya adalah jika metode ini diterapkan kepada siswa yang sudah lanjut atas maka hanya membuat mereka jenuh dan kurang besemangat, apalagi hanya mendengar tanpa adanya media lain yang dapat mereka lihat sebagai pemacu semangat.
Maksudnya, cerita-cerita yang baik dan banyak manfaatnya, tidak ngelantur ke mana-mana, atau cerita tentang para sahabat yang dapat membangun jiwa dan akhlaq mereka. Atau cerita yang terdapat dalam Al-Qur’an mengandung iktibar yang bersifat mendidik manusia. Allah memerintahkan manusia agar menceritakan kasus-kasus sejarah bangsa-bangsa yang lampau agar dijadikan babhan pemikiran.
5. Metode Sorogan
Metode sorogan ialah penyampaian pelajaran di mana seorang santri atau murid maju dengan membawa kitab dan membacanya dihadapan guru atau kyainya. Selanjutnya kyai atau guru membimbing santrinya apabila ia menemui kesulitan dan membetulkannya apabila ia melakukan kekeliruan.
Keunggulan dari metode ini adalah siswa atau santri dituntut untuk lebih aktif lagi dalam belajar dan mencari sesuatu yang belum diketahuinya. Sedangkan kelemahannya adalah seorang siswa atau santri kurang mendapatkan kejelasan dalam memahami sesuatu yang menjadi kebutuhan dalam pembelajaran tersebut.
Jadi, yang dimaksud dengan metode sorogan ini adalah santri atau murid menghadap kepada guru atau kyainya dengan membaca kitab yang dipelajarinya dan apabila santri tersebut mengalami kesulitan atau kekeliruan dalam bacaanya, maka seorang guru atau kyainya langsung memberikan bimbingan. Misalnya: seorang santri yang sedang membaca ayat suci Al-Qur’an dihadapan kyainya dan seorang santri tersebut kesulitan dalam bacaan itu maka, kyainya langsung membimbingnya untuk dibenarkan bdacaannya tadi.
6. Metode Pemberian Tugas (Resitasi)
Yang dimaksud dengan metode ini adalah suatu cara dalam proses belajar mengajar bilamana guru memberi tugas tertentu dan murid mengerjakannya, kemudian tugas tersebut tugas tersebut dipertanggungjawabkan kepada guru. Dengan cara demikian diharapkan agar murid belajar secara bebas tapi bertanggung jawab dan muridpun akan mendapatkan pengalaman mengetahui berbagai kesulitan, kemudian berusaha untuk ikut mengatasi kesulitan-kesulitan itu.
Keunggulannya adalah
1) Hasil pelajaran lebih tahan lama dan membekas dalam ingatan siswa
2) Siswa belajar dan mengembangkan inisiatif dan sikap mandiri
3) Memberikan kebiasaan untuk disiplin dan giat belajar
4) Dapat memperaktekkan hasik teori/konsep dalam kehidupan nyata/masyarakat
Kelemahannya adalah
1) Siswa dapat melakukan penipuan terhadap tugas yang diberikan hanya dikerjakan oleh orang lain, atau menjiplak karya orang lain
2) Bila tugas terlalu banyak siswa dapat mengalami kejenuhan/kesukaran, dan hal ini dapat mengganggu ketenangan batin siswa
3) Pemberian tugas cenderung mamakan waktu dan tenaga serta biaya yang cukup berarti.
Dengan kata lain, metode resitasi ialah guru menyajikan bahan pelajaran dengan cara memeberikan tugas kepada siswa, untuk dikerjakan dengan rasa penuh tanggung jawab dan kesadaran. Dalam pelaksanaannya metode resitasi dapat dikerjakan perpustakaan, masjid, dan ditempat-tempat yang bisa digunakannya, tergantung jenis tugas yang diberikan dan setiap tugas yang diberikan siswa harus diberi nilai serta dicatat perkembangannya sebagai prestasi.
Jadi, dapat disimpulakan bahwa metode pemberian tugas adalah proses belajar mengajar di mana guru setelah menyampaikan materi pelajaran lalu memberikan tugas kepada siswanya, supaya tertanam dalam jiwa mereka rasa tangggung jawab dan disiplin kepada diri mereka tersebut.
Langkah-langkah pelaksaannya:
Pemberian tugas dan penjelasannya
- tujuan yang harus dicapai mestilah dirumuskan terlebih dahulu secara jelas
- terngkan dengan jelas tugas-tugas yang akan dikerjakan oleh peserta didik
- selidiki apakah metode resitasi satu-satunya yang terbaik untuk bahan yang akan diajarkan.
Pelaksaan tugas
- Setiap tugas yang diberikan harus dikontrol
- Peserta didik yang mengalami kegagalan harus dibimbing
- Hargailah setiap tugas yang dikerjakan peserta didik
- Berikan dorongan bagi peserta didik yang kurang bergairah
- Tentukan bentuk-bentuk resitasi yang akan dicapai dan oprasikan
Maksudnya, di dalam memberikan tugas dan penjelasan sampai kepada pelasanaanya itu harus benar-benar diteliti dan terkontrol, supaya tugas yang diberikan guru kepada siswanya dapat mereka kerjakan dengan oftimal dan hargailah setiap tugas yang dikerjakan oleh siswa.
7. Metode Karya Wisata
Metode karaya wisata adalah cara menyajikan bahan pelajaran dengan mengadakan kunjungan kesuatu objek di luar kelas dengan maksud utama mempelajari objek tersebut untuk tujuan pelajaran. Dengan kata lain metode ini mengajak dan mengarahkan kepada siswa untuk mengenal secara langsung objek dari materi pelajaran, juga mengajak mereka untuk berkarya. Karena ada sebagian peserta didik yang mempunyai kesengan dengan alam, jadi tentu siswa tersebut akan merasa berminat untuk menjalankan metode ini.
Keunggulan-keunggulannya:
a) Peserta didik secara langsung melihat objek dari materi tersebut
b) Dapat menjawab persolan-persolan dengan cara melihat, mendengar, mencoba, dan membuktikan sendiri
c) Dapat mengembangkan rasa sosial peserta didik
d) Memperbesar dan memperluas minat serta perhatian terhadap tugas-tugas yang diberikan kepada mereka
Kelemahan-kelemahannya:
a) Menggunakan waktu yang cukup lama
b) Membutuhkan dana yang banyak
c) Resikonya besar dan sering tidak terduga
d) Melibatkan orang banyak
Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa metode karya wisata selain memiliki keunggulan ada juga kelemahannya. Dengan adanya metode ini siswa dapat melihat langsung objek dari materi yang dibahas, akan tetapi itu bisa membutuhkan waktu yang cukup lama dan biaya yang tidak sedikit.
8. Metode Eksprimen
Yang dimaksud dengan metode eksprimen adalah apabila seseorang peserta didik melakukan sesuatu percobaab, maka setiap proses dari percobaan itu diamati oleh setiap peserta didik. Misalnya: dibangku setiap peserta didik diletakkan segelas air, kemudian dimasukkanlah sesendok gula ke dalam gelas yang berisi air itu dan gula tersebut larut akan tetapi zatnya tetap ada.
Metode eksprimen adalah suatu cara mengajar dengan menyuruh siswa untuk melakukan suatu percoban, dan setiap proses dari hasil percobaan itu diamati oleh setiap siswa, sedangkan guru memperhatikan apa yang dilakukan oleh siswa sambil memberikan arahan.
Keunggulan dari metode eksprimen adalah
1) Melalui eksprimen siswa dapat mengahayati sepenuh hati dan mendalam, mengenai pelajaran yang diberikan.
2) Siswa dapat aktif mengambil bagian untuk berbuat bagi dirinya, dan tidak hanya melihat orang lain tanpa dirinya melakukan
3) Kemungkinan kesalahan dalam mengambil kesimpulan dapat dikurangi, karena siswa mengamati langsung terhadap suatu proses yang menjadi obyek pelajaran atau mencoba melakukan sesuatu
4) Siswa mendapat pengalaman langsung dan praktis dalam kenyataan sehari-sehari yang sangat berguna bagi dirinya
Kelemahannya adalah
1) Metode ini sulit dilakukan jika siswa belum matang untuk melaksanakannya
2) Memerlukan waktu yang panjang
3) Memerlukan keterampilan dari pihak guru dalam menggunakan serta membuat eksprimen
4) Bagi guru yang sudah terbiasa dengan metode ceramah secara rutin misalnya, maka cenderung memandang metode eksprimen sebagai sesuatu pemborosan dan memberatkan
5) Apabila sarana tidak tersedia atau kurang memadai, maka proses jalannya eksprimen akan menjadi tidak efektif
Jadi, metode eksprimen yang dimaksud di sini adalah metode pembelajaran dengan melakukan percobaan/praktek langsung, bisa juga dengan cara meneliti dan mengamati secara seksama, akan tetapi tidak terlepas dari arahan guru. Metode eksprimen ini hendaknya diterapkan bagi materi pelajaran yang memang menggunakan metode ini, sehingga terasa benar fungsinya. Karena setelah diadakan percobaan barulah guru memberikan penjelasan dan kalau perlu diadakan diskusi terhadap masalah-masalah yang belum ditemukan jawabannya dalam eksprimen tersebut.
9. Metode Drill (Latihan)
Penggunaan istilah “Latihan” sering disamakan dengan istilah “Ulangan”, padahal maksudnya berbeda. Latiahan bermaksud agar pengetahuan dan kecakapan tertentu dapat menjadi milik anak didik dan dikuasai sepenuhnya, sedangkan ulangan hanyalah sekedar mengukur sejauh mana siswa telah menyerap materi pelajaran tersebut.
Keunggulannya adalah
1) Dalam waktu yang tidak lama siswa dapat memperoleh pengetahuan dan ketarmpilan yang diperlukan
2) Siswa memperoleh pengetahuan praktis dan siap pakai, mahir dan lancar
3) Membunuh kebiasaan belajar secara kontinu dan disiplin diri, melatih diri, belajar mandiri
Kelemahannya dari metode ini adalah
1) Dapat menjadi pengahambat bakat dan inisiatif siswa sebab melalui metode ini , ini berarti siswa dibawa kepada konfirmasi dan diarahkan kepada uniformatis
2) Membentuk kebiasaan yang kaku yang bersifat mekanis dan rutinitas, kurang memperhatikan intelektual anak didik
3) Pengajaran cenderung bersifat verbalisme
4) Dalam metode ini memerlukan waktu yang cukup lama
5) Dalam pelajaran agama memerlukan ketelatenan dari pihak guru dan siswa itu sendiri.
Pengajaran yang diberikan melalui metode drill dengan baik selalu akan mengahasilkan hal-hal sebagai berikut:
Anak didik itu akan dapat mempergunakan daya pikirnya yang makin lama makin bertambah baik, karena dengan pengajaran yang baik maka anak didik akan menjadi lebih teratur dan lebih teliti dalam mendorong daya ingatnya, ini berarti daya berpikirnya bertambah.
Pengetahuan anak didik bertambah dari berbagai segi, dan anak didik tersebut akan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam. Guru berkewajiban menyelidiki sejauh mana kemajuan yang telah dicapai oleh anak didik dalam proses belajar.
KESIMPULAN
Jadi, dari uraian tersebut di atas dapa diambil kesimpulan bahwa di dalam ajaran Islam terdapat metode untuk menyampaikan ajaran tersebut kepada umatnya. Namun perlu diketahui bahwa metode-metode tersebut masih dalam bentuk pedoman-pedoman yang bersifat umum sehingga diperlukan kecakapan para pendidik untuk mengambil dan menerapkannya secara khusus terhadap tiap-tiap bahan pelajaran yang akan disampaikan kepada murid.
Mengingat dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin pesat dan berpengaruh terhadap ilmu pengetahuan yang lainnya, maka sudah sepantasnyalah jika ahli-ahli pendidikan Islam membuka mata terhadap kemajuan ilmu pengetahuan serta memanfaatkan untuk perbaikan metode pendidikan Islam. Maka sebaiknya para pendidik Islam menerimanya, khususnya untuk perbaikkan/penyempurnaan metode pendidikan Islam.
Dapat disimpulakan pula bahwa guru-guru harus bekerja sesuai ilmu mendidik yang sebaik-baiknya dengan disertai ilmu pengetahuan yang cukup luas dalam bidangnya serta dilandasi rasa berbakti yang tinggi. Mampu menguasai segala metode pembelajaran dengan cara yang baik, sesuai dengan tempat dan waktunya. Jadi, meskipun guru mampu menguasai metode pembelajaran, akan tetapi harus disesuaikan dengan keadaannya.
DAFTAR PUSTAKA
Namsa, Yunus.2000. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Ternate: Pustaka Firdaus
Yusuf, Tayar dkk. 2000.Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab. Jakarta:PT. Raja Grapindo Persada
Ramaliyus. 2008. Ilmu Pendidikan Islam .Jakarta: Kalam Mulia
Daradjat, Zakiah. 1995. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara
Ihsan, Hamdani dkk. 2007. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung:Pustaka Setia
http//book, google.co.id/books?id=U60Vxge9jcC & pg=RA1-PA1A6&1pg=RA1-PAI6&dq=metode Mudzakaroh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar