Kamis, 02 September 2010

ISLAMISASI NUSANTARA DAN IMFLIKASINYA

1. Sebelum sejarah
Di sekitar yahun 1939-1941 ahli-ahli penyelidik telah menemui di Mojokerto sebuah fosil termasuk rahang dan beberapa buah gigidan tulag pada manusia,yang menurut teori penyelidikan itu adalah termasuk manusia purbakala yang hidup di tanah jawa pada masa kira-kira 500,000 tahun lalu sebelum tarikh Nabi Isa. Dalam ilmu purbakala, zaman itu dinamai zaman Quartair (zaman keempat) pada zaman itu belumlah semourna kemanusiaannya, masih dekat lagi dengan kehidupan binatang, belumlah mengenal apa yang dinamakan kebudayaan. Fosil itu pernah pula didapati orang dekat Solo (di desa Trini).
Kalau penyelidikan ini kita sangkut-\ pautkan dengan dongeng ornag tua-tua,terinhatlah kita kepada kepercayaan mereka bahwa di zaman purbakala ada hidup raksasa yang besar-besar yang hidupnyapun berbeda dengan manusia. Dan menguntukan juga bagi kita sebab ilmu penyelidikan atas pertumbuhan hidup manusia itu sudah terpisah jauh dari pada ilmu sejarah dan telah menjadi ilmu yang berdiri sendiri. Ahlinya pun telah menetapkan bahwa pada zaman itu belumlah ada kebudayaan dan peradaban yang akan disejarahkan.
Menurut penyelidikan ahli ilmu bangsa-bangsa, adapun bangsa yang pada masa sekarang ini yang kita namai bangsa Indonesia, asal-usul keturunannya ialah dari daerah yang dinamai oleh penulis sejarah Eropah, Hindia Belakan, sebagai timbalan dari Hindia Muka,



2. Teori-Teori Kedatangan Islam
Sejauh menyangkut kedatangan Islam di nusantara, terdapat diskusi dan perdebatan panjang di antara para ahli mengenai tiga masalah pokok : Tempat asal kedatangan Islam, para pembawanya, dan waktu kedatangannya. Berbagia teori dan pembahasan yang berusaha menjawab ketiga masalah pokok ini jalas belum tuntas, tidak hanya krena kurangnya data yang dapat mendukung suatu suatu teori tertentu, tetapi juga karena sifat sepihak dari berbagai teori yang ada. Terdapat kecenderungan kuat, suatu teori tertentu menekankan hanya aspek-aspek khusus dari ketiga masalah pokok, sementara mengabaikan aspek-aspek lainnya. Karena itu, kebanyakan teori yang ada dalam segi-segi tertentu gagal menjelaskan kedatangan Islam, konvensi agama yang terjadi, dan proses-proses Islamisasi yang terlibat di dalamny. Bukanya tidak biasa jika suatu teori tertentu tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tandingan yang di ajukan teori-teori lain.

Sejumlah sarjana, kebanyakan asal Belanda, memegang teori bahwa asal-muasal Islam di nusantara adalah Anak Benua India, bukanya Persia atau Arabia. Sarjana pertama yang mengemukakan teori ini adalah Pijnappel, ahli dari Universitas Leiden. Dia mengaitkan asal-muasal Islam di Nusantara dengan wilayah Gujarat dan Malabar. Menurut dia, adalah orang-orang Arab bermazhab Syafi’I yang bermigrasi dan menetap di wilayah India tersebut yang kemudian membawa Islam ke Nusantara.

Moquette, seorang sarjana Belanda lainnya, berkesimpulan bahwa tempat asal Islam di Nusantara adalah Gujarat. Ia mendasarkan kesimpulan ini setelah mengamati bentukbatu nisan di pasai, kawasan utara Sumatra, khususnya yang bertanggal 17 Dzul Al-Hijjah 831 H/ 27 September 1428. batu nisan yang kelihatannya mirip dengan batu nisan lain yang di temukan di makam Mawlana Mlik Ibrahim (w. 822/1419) di Gresik, jawa timur ternyata sama bentuknya dengan batu nisan yang terdapat di cambay, Gujarat. Berdasarkan contoh-contoh batu nisan ini ia berkesimpulan, bahwa batu nisan di Gujarat dihasilkan bukan hanya untuk pasar lokal, tetapi juga untuk impor ke kawasan lain, term,asuk Sumatra dan Jawa. Selanjutnya, dengan mengimpor batu nisan dari Gujarat, orang-orang Nusantara juga mengambil Islam dari sana.

Kesimpulan Moquette ini di tentang keras oleh fatimi yang beragumen bahwa keliru mengaitkan seluruh batu nisan di pasai, termasuk batu nisan Malik Al-Shalih, dengan batu nisan di Gujarat. Menurut penelitiannya, bentuk dan gaya batu nisan Malik Al-Shalih berbeda sepenuhnya dengan batau nisan yang terdapat di Gujarat dan batu-batu nisan lain yang ditemukan di Nusantara. Fatimi berpendapat, bentuk dan gaya batu nisan itu justru mirip dengan batu nisan yang terdapat di Bengal. Ini menjadi alasan utamanya untuk menyimpulkan, bahwa asal Islam yang datang ke Nusantara adalah wilayah Bengal. Dalam kaitannya dengan “teori batu nisan “ ini, Fatimi mengeritik para ahli yang kelihatannya mengabaikan batu nisan Siti Fatimah (bertanggal 475/1082) yang di temukan di Leran, Jawa Timur.

Teori yang dikemukakan Marisson kelihatan mendukung pendapat yang di pegang Arnold. Menulis jauh sebelum Marisson, Arnold berpendapat bahwa Islam di bawa ke nusantara antara lain juga dari Coromandel dan Malabar. Ia menyokong teori ini dengan menunjuk kepada persamaan mazhab fiqih di antara kedua wilayah tersebut. Mayoitas Muslim di Nusantara adalah pengikut mazhab Syafi'i, yang juga cukup dominan di wilayah Coromandel dan Malabar, seperti di saksikan oleh Ibn Bathuthah ktika ia mengunjungi kawasan ini. Mennurut Arnold, para pedagang dari Coromandel dan Malabar mempunyai peran penting dalamperdagangan antara India dan Nusantara. Sejumlah besar pedagang ini mendatangi pelabuhan-pelabuhan dagang dunia Melayu-Indonesia di mana mereka ternyata tidakhanya terlubat dalam perdagangan, tetapi juga dalam penyebaran Islam.


Tetapi penting dicata, menurut Arnold, Coromandel dan Mlabar bukan satu-satunya tempat asal Islam di bawa, tetapi juga dari Arab. Dalam pandanganya, para pedagang Arab juga menyebarkan Islam ketika mereka dominan dalam perdagangan Barat-Timur sejak abad ke-7 dan ke-8 Maswhi. Meski yidak terdapat catatan-catatan kegiatan mereka dalam penyebaran Islam, cukup pantas mengasumsikan bahwa mereka terlibat pula dalam penyebaran Islam kepada penduduk Nusantara. Sebagian orang-orang Arab melakukan perkawinan dengan wanita lokal, sehingga membentuk sebuah komunitas Muslim yand terdiri dari orang-orang Arab pendatang dan penduduk lokal. Menurut Arnold, anggota-anggota komunitas Muslim ini juga melakukan kegiatan-kegiatan penyebaran Islam.

Teori tntang Gujarat sebagai tempat asal Islam di Nusantara terbukti mempunyai kelemahan-kelemahan tertentu. Ini dibiktikan misalnya oleh Marison. Ia beraguman, meski batu-batu nisan nyang ditemukan di tempat-tempat terteneu di Nusantara boleh jadi berasal dari Gujarat atau dari Bengal. Seperti di kemukakan Fatimi itu tidak lantass berarti Islam juga didatangkan dari sana. Marison mematahkan teori ini drngan mununjukan kepada kenyataan bahwa pada masa Islamisasi Samudra-Pasai, yang raja pertamanya wafat pada 698/1297, Gujarat masih merupakan kerajaan Hindu. Barulah setahun kemudian 699/1298 cambay, Gujarat ditaklukan kekuasaan Muslim. Jika Gujarat adalah pusat Islam, yang dari tempat itu para penyebar Islam datana ke Nusantara, maka Islam pastilah telah mapan dan berkembang di Gujaratsebelum kematian Malik Al-Shalih, tegasnya sebelum 698/1297. marrison selanjutnya mencatat, meski lascar Muslim menyerang Gujarat beberapa kali, masing-masing 415/1024, 574/1178, dan 595/1197, raja Hindu di sana mampui mempertahankan kekuasaannya hingga 698/1297. mempertimbangkan semua ini, Marrison mengemukakan teorinya bahwa Islam di Nusantara bukan berasal dari Gujsrst, melsinksn di bawa para penyebar Muslim dari pantai Coromandel pada akhir abad ke-13.

Teori bahwa Islam juga di bawah langsung dari Arabia di pegang pula oleh Crawfurd, walaupun ia menyarankan bahwa interaksi pnduduk Nusantara dengan kaum Muslimin yang berasal dari pantai timur India juga merupakan faktor penting dalam penyebaran Islam di Nusantar. Sementara itu, Keijzer memandang Islam di Nusantara berasal dari Mesir atas dasar pertimbangan kesamaan kepemelukan penduduk Muslim di kedua wilalayah kepada mazhab Syafi’i. Teori Arabh ini juga dipegang oleh Niemanndan De Hollander dengan sedikit revisi; mereka memandang bukan Mesir sebagai sumber Islam di Nusantara, melainkan Hadhramawt. Sebagian ahli Indonesia detuju dengan “Teori Artab” INI. Dalam seminar yang diselenggarakan pada 1969 dan 1978 tentang kedatangan Islam kr Indonesia mrreka menyimpulkan, Islam datang langsung dari Arabia, tidak dari India, tidak pada abad ke-12 atau ke-13 melainkan dalam abad pertama hijri atau abad ke-7 Masehi.

Dalam kinteks Hinduisasi masyarakat Asia Tenggara, kedatangan Islam bergantung kepada penyebaran masyarakat Muslim yang telah berlangsung lebih awal di Arabia dan di daerah Samudera India dan bergantung kepada kuatnya hubungan dengan antara Asia Tenggara. Meskipun beberapa kontak yang paling awal antara Asia Tenggara dengan dunia Muslim bisa jadi bersandar pada keterlibatan para pedagang Muslim perdagangan Cina, namun tidak lama setelah konsolidasi Islam di anak benua India para pedagang Muslim dan misionari Sufi mulai melancarkan hubunhan dagang dan menyebar secara luas. Pada abad tiga belas, Asia Tenggara mulai menjalin hubungan dengan Muslim Cuna, Bengal, Gujarat, Iran, Yaman dab Arabia Selatan. Kenyataannya bahwasanya warga Muslim Malay dan Indonesia adalah pengikut Syafi’i membuktikan bahwasanya India Selatan merupakan sumber utama pengaruh Islam.
Terdapat tiga toeri yang diharapkan dapat membantu menjelaskan penerimaan Islam yang sebenarnya :
Teori pertama menekankan peran kaum pedagang yang telah melembagakan diri mereka di beberapa wilayah pesisir Indonesia, menikah dengan beberapa keluarga penguasa lokal, dan yang telah menyumbangkan peran diplomatik. Kedua, menekankan peran kaum dari Gujarat, Bengal, dan Arabia. Kedatangan para Sufi bukan hanya sebagai guru tetapi sekaligus juga sebagai pedagang yang memasuki lingkunagan istana para penguasa, perkampungan kaum pedagang, dan memasuki perkampungan wilayah pedalaman. Mereka mampu berkomunikasi tentang misi Agama yang mereka yakini. Teori ketiga lebih menekankan makna Islam bagi masyarakat umum daripada elite pamerintah. Islam telah bersosialisasi dengan kaum tani dan komunitas pedagang. Agaknya teori ketiga ini bisa jadi berlaku semuanya, sekalipaun dalam kondisi yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Tidak terdapat sebuah proses tunggal atau sumber tunggal bagi penyebaran Islan di Asia Tenggara, namun para pedagang dan kaum sufi pengembara, pengaruh para murid, dan penyebaran berbagai sekolah agaknya merupakan faktor penyebaran Islam yang sangat penting.

3. Hubungan Awal Nusantara dengan Timur Tengah
Hubungan antara Nusantara dengan Timur Tengah melibatkan sejarah yang panjang, yang dapat dilacak sampai ke masa yang sangat tua. Kontak paling awal antara kedua wilayah ini, khususnya berkaitan dengan perdagangan. Memang, hubungan antara keduanya pada masa beberapa waktu debelum kedatangan Islam dan masa awal Islam terutama merupakan hasil dari perdagangan Arab dan Persia dengan Dinasti Cina. Kapal-kapal Arab dan Persia yang berdagang ke Cina melakukan pengembaraan pula di Nusantara jauh sebelum Islam menjadi nyata di bagian mana pun di Nusantara.


Riwayat-riwayat paling awal tentang hubungan antara Timur Tengah dengan Nusantara terutama diberikan sumber-sumber Cina dan Arab. Tetapi, riwayat-riwayat ini hanya fragmentaris, tetapi juga secara inheren peoblematis. Benar bahwa terdapat banyak riwayat tentang Nusantara ditulis sejarawan Arab semacam Al-Ya’qubi, Abu Zayd atau Al-Mas’udi; tetapi mereka kebanyakannya berdasarkan pada cerita-cerita para pelayar Arab yang lebih tertarik pada hal-hal aneh dari pada kondisi real bagian-bagian Nusantara yang mereka singgahi. Karena itu, riwayat-riwayat mereka itu sangat sulit diverifikas.

Analisis
Banyak berbagai teori yang mengatakan Islam datang ke Nusantara, ada yang mengatakan dari Benua India, dari Gujarat yang di teliti dari batu nisan, Bengal dll. Tetapi Arnold berpendapat bahwasanya Islam datang Dari Arab, di karenakan para pedagang Arab yang menyebarkan Islam ketika mereka melakukan perdagangan Barat-Timur sejak abad ke-7 dan ke-8 masehi, kalau kita lihat dari sejarah bahwasanya Nabi muhammad juga di lahirkan disana. Pendapat inilah yang saya betulkan, kalau misalnya Islam datang dari India bisa saja Islamnya Ahmadiyah.








.

KESIMPULAN



Menyangkut kedatangan Islam ke Nusantara, ada beberapa nama dan beberapa pendapat dengan argumennya masing-masing dan dengan segala teori yang mereka katakan. Tetapi dengan segala teori dan pendapat mereka ungkapkan, menurut saya, teori yang di ungkapkan Arnold lah yang bisa di benarkan, di karenakan Islam datang ke Nusantara melalui perdagangan yang di lakukuan oleh orang-orang Arab lalu mereka menyebarkan Islam ke Nusantara.



















DAFTAR PUSTAKA




Azra, Azyumardi , Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Penerbit Mizan, Bandung, 1994.

Lapidus, Ira M., Sejarah Sosial Umat Islam, PT Grafindo Persada, Jakarta, 1999

Hamka, Sejarah Umat Islam,.Pustaka Nasional, Singapura, 2005





















ISLAMISASI NUSANTARA DAN INFLIKASINYA







Disusun Oleh
Syawaluddin (08 29 012)
M. Adli ( )


Dosen Pembimbing :
Litado Dewi Jusma, M.Pd.I





FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN FATAH
PALEMBANG
2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar