Rabu, 22 Desember 2010

PEMIKIRAN TENTANG TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM

PEMIKIRAN TENTANG TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM







Makalah Ini Disusun Sebagai Tugas Pada Mata Kuliah
Pemikiran pendidikan islam


Disusun oleh:
Syawaluddin (0829012)



Dosen pembimbing:
Ali Murtopo, M.Pd.I





FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN FATAH
PALEMBANG
2010
Pendahuluan

Pendidikan merupakan bagian vital dalam kehidupan manusia. Pendidikan (terutama Islam) – dengan berbagai coraknya- berorientasi memberikan bekal kepada manusia (peserta didik) untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, semestinya pendidikan (Islam) selalu diperbaharui konsep dan aktualisasinya dalam rangka merespon perkembangan zaman yang selalu dinamis dan temporal, agar peserta didik dalam pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada kebahagiaan hidup setelah mati (eskatologis); tetapi kebahagiaan hidup di dunia juga bisa diraih.
Dalam kenyataannya, di kalangan dunia Islam telah muncul berbagai isu mengenai krisis pendidikan dan problem lain yang amat mendesak untuk dipecahkan. Lebih dari itu mensinyalir bahwa didapati krisis yang terburuk dalam hal pendidikan di kalangan dunia Islam. Inilah yang menuntut agar selalu dilakukan pembaharuan (modernisasi) dalam hal pendidikan dan segala hal yang terkait dengan kehidupan umat Islam.











Pembahasan

A. Pengertian Pendidikan Islam
Ada tiga istilah yang umum digunakan dalam pendidikan Islam, yaitu al-Tarbiyah, al-Ta’lim, dan al-Ta’dib.
1. Istilah al-Tarbiyah
Kata Tarbiyah berasal dari kata dasar “rabba” (رَبَّى), yurabbi (يُرَبِّى) menjadi “tarbiyah” yang mengandung arti memelihara, membesarkan dan mendidik. Dalam statusnya sebagai khalifah berarti manusia hidup di alam mendapat kuasa dari Allah untuk mewakili dan sekaligus sebagai pelaksana dari peran dan fungsi Allah di alam. Dengan demikian manusia sebagai bagian dari alam memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang bersama alam lingkungannya. Tetapi sebagai khalifah Allah maka manusia mempunyai tugas untuk menjaga pertumbuhan dan perkembangan alam.
2. Istilah al-Ta’lim
Secara etimologi, ta’lim berkonotasi pembelajaran, yaitu semacam proses transfer ilmu pengetahuan. Hakekat ilmu pengetahuan bersumber dari Allah SWT. Adapun proses pembelajaran (ta’lim) secara simbolis dinyatakan dalam informasi al-Qur’an ketika penciptaan Adam as oleh Allah SWT, ia menerima pemahaman tentang konsep ilmu pengetahuan langsung dari penciptaNya. Proses pembelajaran ini disajikan dengan menggunakan konsep ta’lim yang sekaligus menjelaskan hubungan antara pengetahuan Adam as dengan Tuhannya. (Jalaluddin, 2001:122).

3. Istilah al-Ta’dib
Menurut al-Attas, istilah yang paling tepat untuk menunjukkan pendidikan Islam adalah al-Ta’dib, konsep ini didasarkan pada hadits Nabi:
اِدَّ بَنِيْ رَبِّى فَأَحْسَنَ تَـأْدِيْبِيْ {رواه العسكرى عن على}
Artinya : “Tuhan telah mendidikku, maka ia sempurnakan pendidikanku”
(HR. al-Askary dari Ali r.a).
Al-Ta’dib berarti pengenalan dan pengetahuan secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia (peserta didik) tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan. Dengan pendekatan ini pendidikan akan berfungsi sebagai pembimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat dalam tatanan wujud dan kepribadiannya.
Dari bahasan di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah suatu sistem yang memungkinkan seseorang (peserta didik) dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologi Islam.
Adapun istilah pendidikan berasal dari kata “didik” dengan membrinya awalan “pe” dan akhiran “kan” mengandung arti “perbuatan”. Istilah pendidikan ini semula berasal dari bahasa yunani, yaitu “paedagogie”, yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini kemudian di terjemahkan ke dalam bahasa inggris dengan “education” yang berarti pengembangan atau bimbngan. Dalam bahasa Arab istilah ini sering di terjemahkan dengan “tarbiyah” yang berarti pedidikan.
Menurut Muhammad Athiyah al-Abrasyi memberikan pengertian bahwa pendidikan Islam (al-Tarbiyah al-Islamiyah) mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempruna dan bahagia, mencintai tanah air, sehat jasmani dan rohani, sempurna budi pekertinya (akhlaknya), teratur pikirannya, halus perasaannya, mahir dalam pekerjaanya, manis tutur katanya baik dengan lisan maupun dengan tulisan.
Marimba juga memberikan pengertian bahwa: pendidikan Islam adalaah “bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian uatama menurut ukuran-ukuran agama Islam.
Bila diperhatikan, sebenarnya tidak seorangpun dari masyarakat awam maupun intelek yang tidak mengakui adanya akan pentingnya pendidikan dalam kehidupan. Karena itu pendidikan merupakan kebutuhan primer bagi setiap manusia ang terus berkembang, yang sebagaiamana diungkapkan oleh Djumberansyah bahwa: “pendidikan adalah sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan yang baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan”.
Menurut Zahara Idris bahwa: “pendidikan adalah kumpulan dari semua proses yang memungkinkan seseorang mengembangkan sikap-sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku yang benilai positif dalam masyaarakat tempat ia hidup”.
Jadi dapat kita simpulkan bahwa pendidikan Islam adalah untuk membentuk pribadi seorang muslim itu dengan nilai-nilai Islam dan dan mengaflikasiknya kemasyarakat luas baik secara individu maupun menyeluruh. Tidak hanya dengan cara memberikan ceramah atau ilmu, tetapi dapat kta lakukan dngan cara akhlak mulia dan kepripribadian kta yang baik-baik di masyarakat.
B. Tujuan Pendidikan Islam
Menetapkan al-Qur’an dan hadits sebagai dasar pendidikan Islam bukan hanya dipandang sebagai kebenaran yang didasarkan pada keimanan semata. Namun justru karena kebenaran yang terdapat dalam kedua dasar tersebut dapat diterima oleh nalar manusia dan dibolehkan dalam sejarah atau pengalaman kemanusiaan.
Pendidikan Islam adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk pribadi muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik yang berbentuk jasmaniah maupun rohaniah, menumbuh-suburkann hubungan harmonis setiap pribadi dengan Allah, manusia dan alam semesta. Dengan demikian, pendidikan Islam itu berupaya untuk mengembangkan individu sepenuhnya, maka sudah sewajarnyalah untuk dapat memahami hakikat pendidikan Islam itu bertolak dari pemahaman terhadap konsep manusia menurut Islam.
Al-Qur’an meletakkan kedudukan manusia sebagai Khalifah allah di bumi (Al-baqoroh: 30)
                     •         
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Esensi makna khalifah adalah orang yang diberi amanah oleh Allah untuk memimpin alam. Dalam hal ini manusia bertugas untuk memelihara dan memanfaatkan alam guna mendatangkan kemaslahatan bagi manusia.
Agar manusia dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah secara maksimal, maka sudah semestinyalah manusia itu memiliki potensi yang menopangnya untuk terwujudnya jabatan khalifah tersebut. Potensi tersebut meliputi potensi jasmani dan rohani.
Di sisi lain, di samping manusia berfungsi sebagai khalifah, juga bertugas untuk mengabdi kepada Allah (Az-Zariyat 56).
      
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”
Dengan demikian manusia itu mempunya fungsi ganda, sebagai khalifah dan sekaligus sebagai ‘abd. Fungsi sebagai khalifah tertuju kepada pemegang amanah Allah untuk penguasaan, pemanfaatan, pemeliharaan, dan pelestarian alam raya yang berujung kepada pemakmurannya. Fungsi ‘abd bertujuan kepada penghambaan diri semata-mata hanya kepada Allah.
Untuk terciptanya kedua fungsi tersebut yang terintegrasi dalam diri pribadi muslim, maka diperlukan konsep pendidikan yang komprehensif yang dapat mengantarkan pribadi muslim kepada tujuan akhir pendidikan yang ingin dicapai.
Agar peserta didik dapat mencapai tujuan akhir (ultimat aim) pendidikan Islam, maka diperlukan konsep pendidikan yang komprehensif yang dapat mengantarkan pribadi muslim kepada tujuan akhir pendidikan yang ingin dicapai.
Agar peserta didik dapat mencapai tujuan akhir pendidikan Islam, maka suatu permasalahan pokok yang sangat perlu mendapat perhatian adalah penyusunan rancangan program pendidikan yang dijabarkan dalam kurikulum. Pengertian kurikulum dalam tulisan ini adalah segala kegiatan dan pengalaman pendidikan yang dirancang dan diselenggarrakannya oleh lembaga pendidikan bagi peserta didiknya, baik di dalam maupun di luar sekolah dengan maksud untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Ibn Khaldun menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam mempunyai 2 tujuan, yaitu:
1. Tujuan keagamaan ialah beramal untuk akhirat, sehingga ia menemui tuhannya dan telah menunaikan hak-hak Allah yang diwajibkan keatasnya.
2. Tujuan ilmiah yang bersifat keduniaan, yaitu apa yang diungkapkan oleh pendidikan modern dengan tujuan kemanfaataan atau persiapan untuk hidup.
Selanjutnya Al-Ghozali berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam yang paling utama ialah beribadah dan taqorrub kepada Allah, dan ksempurnaan insani yang tujuannya kebahagiaanya dunia akhirat.
Selain pandangan yang dikemukakan di atas, terdapat para cendikiawan Islam dan ahli-ahli pendidikan Islam yang membuat rumusan mereka masing-masing tentaang tujuan pendidikan Islam, mereka itu ialah :
1. Prof. Saleh Abdul Aziz dan dr, Aziz Abdul Najib mengatakan, bahwa tujuan pendidikan Islam adalah: untuk mendapatkan keridhoan Allah dan mengusahakan penghidupan.
2. Menurut Musthafa Amin bahwa tujuan pendidikan Islam adalah: mempersiapkan seseorang bagi amalan dunia dan akhirat.
3. Al-Abrasyi merumuskan tujuan pendidikan Islam kedalam lima pokok yaitu :
1. Pembentukan akhlak mulia
2. Persiapan untuk dunia dan akhirat.
3. Persiapan untuk mencari rizki dan pemeliharaan segi-segi pemanfaatannya. Keterpaduan antara agama dan ilmu akan dapat membawa manusia kepada kesempurnaan.
4. Menumbuhkan roh ilmiah para pelajar dan memenuhi keinginan untuk mengetahui serta memiliki kesanggupan untuk mengkaji ilmu sekedar sebagai ilmu.
5. Mempersiapkan para pelajar untuk suatu profesi tertentu sehingga ia mudah mencari rezeki.
4.Abdul Fayad menyatakan bahwa pendidkan Islam mengarah pada dua tujuan :
1. Persiapan untuk hidup akhirat.
2. Membentuk perorangan dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk menunjang kesuksesannya hidup di dunia.
.             
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (Al-Qashash: 77)
Semua rumsan tjuan yang dikemkakan di atas sesai dengan ayat Al-Quran, hadist Rasulullah SAW.
Firman Allah SWT:
 ••                         
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).
“Bukan merupakn orang yang baik di antaramu, siapa yang meninggalakan dunia untuk keperluan akhiratnya dan bukan pula meninggalakn akhirat untuk keperlaun keduniaan. Tetapi orang terbaik di antara ialah siapa yang mengambil dunia dan akhirat”. (H.R. Turmudzi)

.













Kesimpulan

Tujuan akhir pendidikan dalam islam adalah pembentukan pribadi kholifah bagi anak didikyang memiliki fitrah, roh di samping badan, kemaan yang bebas, dan akal. Dengan kata lain tugas pendidik adalah mengembangkan keempat aspek inipada manusia agar ia dapat menempati kedudukan sebagai kholifah.
Tidak dengan it saja, akan tetapi tujuan pendidikan agar membentk manusia yang sempurna baik secara akal maupun logika. Akan tetapi tidak hanya menuntut ilmu akhirat saja, ilmu dunia harus di cari juga. Agar manusia dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah secara maksimal, maka sudah semestinyalah manusia itu memiliki potensi yang menopangnya untuk terwujudnya jabatan khalifah tersebut. Potensi tersebut meliputi potensi jasmani dan rohani.












Daftar Pustaka



Al-Quran dan Terjamah

Jalaluddin & Abdullah. 1997, Filsafat Pendidikan. Jakarta: Gaya Media Pratama

Jalaluddin. 2001, Teologi Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Hawi, Akmal. 2005, Kapita Selekta Pendidikan, IAIN RF Press

Ihsan, Hamdani & Ihsan A. Fuad. 2007, Filasafat pendidikan Islam, Bandng: CV Pstaka Setia

Ramayulis. 1992, Ilm Pendidikan Islam, Jakarta Pusat: Kalam Mulia

Uhbiyati, Nur. 1999, Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: CV Pustaka Setia