Jumat, 03 September 2010

Beda Antara Suka, Cinta dan Sayang

Dihadapan orang yang kau cintai, musim dingin berubah menjadi musim semi yang indah. Dihadapan orang yang kau sukai, musim dingin tetap saja musim dingin hanya suasananya lebih indah sedikit. Dihadapan orang yang kau cintai, jantungmu tiba tiba berdebar lebih cepat. Dihadapan orang yang kau sukai, kau hanya merasa senang dan gembira saja. Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau cintai, matamu berkaca kaca. Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau sukai, engkau hanya tersenyum saja. Dihadapan orang yang kau cintai, kata kata yang keluar berasal dari perasaan yang terdalam Dihadapan orang yang kau sukai, kata kata hanya keluar dari pikiran saja. Jika orang yang kau cintai menangis, engkaupun akan ikut menangis disisinya. Jika orang yang kau sukai menangis, engkau hanya menghibur saja. Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga. Tapi apabila kau mencoba menutup matamu dari orang yang kau cintai, cinta itu berubah menjadi tetesan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.
"Tetapi selain rasa suka dan rasa cinta... ada perasaan yang lebih dalam. itu rasa sayang.... rasa yang tidak hilang secepat rasa cinta. Rasa yang tidak mudah berubah. Perasaan yang dapat membuatmu berkorban untuk orang yang kamu sayangi. Mau menderita demi kebahagiaan orang yang kamu sayangi. Cinta ingin memiliki. Tetapi Sayang hanya ingin melihat orang yang disayanginya bahagia... walaupun harus kehilangan."

Kamis, 02 September 2010

Misteri Bilangan Nol

Oleh: Yusmichad Yusdja
Staf peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial dan ekonomi Pertanian IPB

Ratusan tahun yang lalu, manusia hanya mengenal 9 lambang bilangan yakni 1, 2, 2, 3, 5, 6, 7, 8, dan 9. Kemudian, datang angka 0, sehingga jumlah lambang bilangan menjadi 10 buah. Tidak diketahui siapa pencipta bilangan 0, bukti sejarah hanya memperlihatkan bahwa bilangan 0 ditemukan pertama kali dalam zaman Mesir kuno. Waktu itu bilangan nol hanya sebagai lambang. Dalam zaman modern, angka nol digunakan tidak saja sebagai lambang, tetapi juga sebagai bilangan yang turut serta dalam operasi matematika. Kini, penggunaan bilangan nol telah menyusup jauh ke dalam sendi kehidupan manusia. Sistem berhitung tidak mungkin lagi mengabaikan kehadiran bilangan nol, sekalipun bilangan nol itu membuat kekacauan logika. Mari kita lihat.

Nol, penyebab komputer macet
Pelajaran tentang bilangan nol, dari sejak zaman dahulu sampai sekarang selalu menimbulkan kebingungan bagi para pelajar dan mahasiswa, bahkan masyarakat pengguna. Mengapa? Bukankah bilangan nol itu mewakili sesuatu yang tidak ada dan yang tidak ada itu ada, yakni nol. Siapa yang tidak bingung? Tiap kali bilangan nol muncul dalam pelajaran Matematika selalu ada ide yang aneh. Seperti ide jika sesuatu yang ada dikalikan dengan 0 maka menjadi tidak ada. Mungkinkah 5*0 menjadi tidak ada? (* adalah perkalian). Ide ini membuat orang frustrasi. Apakah nol ahli sulap?
Lebih parah lagi-tentu menambah bingung-mengapa 5+0=5 dan 5*0=5 juga? Memang demikian aturannya, karena nol dalam perkalian merupakan bilangan identitas yang sama dengan 1. Jadi 5*0=5*1. Tetapi, benar juga bahwa 5*0=0. Waw. Bagaimana dengan 5o=1, tetapi 50o=1 juga? Ya, sudahlah. Aturan lain tentang nol yang juga misterius adalah bahwa suatu bilangan jika dibagi nol tidak didefinisikan. Maksudnya, bilangan berapa pun yang tidak bisa dibagi dengan nol. Komputer yang canggih bagaimana pun akan mati mendadak jika tiba-tiba bertemu dengan pembagi angka nol. Komputer memang diperintahkan berhenti berpikir jika bertemu sang divisor nol.

Bilangan nol: tunawisma
Bilangan disusun berdasarkan hierarki menurut satu garis lurus. Pada titik awal adalah bilangan nol, kemudian bilangan 1, 2, dan seterusnya. Bilangan yang lebih besar di sebelah kanan dan bilangan yang lebih kecil di sebelah kiri. Semakin jauh ke kanan akan semakin besar bilangan itu. Berdasarkan derajat hierarki (dan birokrasi bilangan), seseorang jika berjalan dari titik 0 terus-menerus menuju angka yang lebih besar ke kanan akan sampai pada bilangan yang tidak terhingga. Tetapi, mungkin juga orang itu sampai pada titik 0 kembali. Bukankah dunia ini bulat? Mungkinkah? Bukankah Columbus mengatakan bahwa kalau ia berlayar terus-menerus ia akan sampai kembali ke Eropa?
Lain lagi. Jika seseorang berangkat dari nol, ia tidak mungkin sampai ke bilangan 4 tanpa melewati terlebih dahulu bilangan 1, 2, dan 3. Tetapi, yang lebih aneh adalah pertanyaan mungkinkan seseorang bisa berangkat dari titik nol? Jelas tidak bisa, karena bukankah titik nol sesuatu titik yang tidak ada? Aneh dan sulit dipercaya? Mari kita lihat lebih jauh.


Jika di antara dua bilangan atau antara dua buah titik terdapat sebuah ruas. Setiap bilangan mempunyai sebuah ruas. Jika ruas ini dipotong-potong kemudian titik lingkaran hitam dipindahkan ke tengah-tengah ruas, ternyata bilangan 0 tidak mempunyai ruas. Jadi, bilangan nol berada di awang-awang. Bilangan nol tidak mempunyai tempat tinggal alias tunawisma. Itulah sebabnya, mengapa bilangan nol harus menempel pada bilangan lain, misalnya, pada angka 1 membentuk bilangan 10, 100, 109, 10.403 dan sebagainya. Jadi, seseorang tidak pernah bisa berangkat dari angka nol menuju angka 4. Kita harus berangkat dari angka 1.

Mudah, tetapi salah
Guru meminta Ani menggambarkan sebuah garis geometrik dari persamaan 3x+7y = 25. Ani berpikir bahwa untuk mendapatkan garis itu diperlukan dua buah titik dari ujung ke ujung. Tetapi, setelah berhitung-hitung, ternyata cuma ada satu titik yang dilewati garis itu, yakni titik A(6, 1), untuk x=6 dan y=1. Sehingga Ani tidak bisa membuat garis itu. Sang guru mengingatkan supaya menggunakan bilangan nol. Ya, itulah jalan keluarnya. Pertama, berikan y=0 diperoleh x=(25-0)/3=8 (dibulatkan), merupakan titik pertama, B(8,0). Selanjutnya berikan x=0 diperoleh y=(25-3.0)/7=4 (dibulatkan), merupakan titik kedua C(0,4). Garis BC, adalah garis yang dicari. Namun, betapa kecewanya sang guru, karena garis itu tidak melalui titik A. Jadi, garis BC itu salah.
Ani membela diri bahwa kesalahan itu sangat kecil dan bisa diabaikan. Guru menyatakan bahwa bukan kecil besarnya kesalahan, tetapi manakah yang benar? Bukankah garis BC itu dapat dibuat melalui titik A? Kata guru, gunakan bilangan nol dengan cara yang benar. Bagaimana kita harus membantu Ani membuat garis yang benar itu? Mudah, kata konsultan Matematika. Mula-mula nilai 25 dalam 3x+7y harus diganti dengan hasil perkalian 3 dan 7 sehingga diperoleh 3x+7y=21.
Selanjutnya, dalam persamaan yang baru, berikan y=0 diperoleh x=21/3=7 (tanpa pembulatan) itulah titik pertama P(6,1). Kemudian berikan nilai x=0 diperoleh y=21/7 = 3 (tanpa pembulatan), itulah titik kedua Q(0, 3). Garis PQ adalah garis yang sejajar dengan garis yang dicari, yakni 3x+7y=25. Melalui titik A tarik garis sejajar dengan PQ diperoleh garis P1Q1. Nah, begitulah. Sang murid telah menemukan garis yang benar berkat bantuan bilangan nol.
Akan tetapi, sang guru masih sangat kecewa karena sebenarnya tidak ada satu garis pun yang benar. Bukankah dalam persamaan 3x1+7x2=25 hanya ada satu titik penyelesaian yakni titik A, yang berarti persamaan 3x1+7x2 itu hanya berbentuk sebuah titik? Bahkan pada persamaan 3x1+7x2=21 tidak ada sebuah titik pun yang berada dalam garis PQ. Oleh karena itu, garis PQ dalam sistem bilangan bulat, sebenarnya tidak ada. Aneh, bilangan nol telah menipu kita. Begitulah kenyataannya, sebuah persamaan tidak selalu berbentuk sebuah garis.

Bergerak, tetapi diam
Bilangan tidak hanya terdiri atas bilangan bulat, tetapi juga ada bilangan desimal antara lain dari 0,1; 0,01; 0,001; dan seterusnya sekuat-kuat kita bisa menyebutnya sampai sedemikian kecilnya. Karena sangat kecil tidak bisa lagi disebut atau tidak terhingga dan pada akhirnya dianggap nol saja. Tetapi, ide ini ternyata sempat membingungkan karena jika bilangan tidak terhingga kecilnya dianggap nol maka berarti nol adalah bilangan terkecil? Padahal, nol mewakili sesuatu yang tidak ada? Waw. Begitulah.
Berdasarkan konsep bilangan desimal dan kontinu, maka garis bilangan yang kita pakai ternyata tidak sesederhana itu karena antara dua bilangan selalu ada bilangan ke tiga. Jika seseorang melompat dari bilangan 1 ke bilangan 2, tetapi dengan syarat harus melompati terlebih dahulu ke bilangan desimal yang terdekat, bisakah? Berapakah bilangan desimal terdekat sebelum sampai ke bilangan 2? Bisa saja angka 1/2. Tetapi, anda tidak boleh melompati ke angka 1/2 karena masih ada bilangan yang lebih kecil, yakni 1/4. Seterusnya selalu ada bilangan yang lebih dekat... yakni 0,1 lalu ada 0,01, 0,001, ..., 0,000001. demikian seterusnya, sehingga pada akhirnya bilangan yang paling dekat dengan angka 1 adalah bilangan yang demikian kecilnya sehingga dianggap saja nol. Karena bilangan terdekat adalah nol alias tidak ada, maka Anda tidak pernah bisa melompat ke bilangan 2?
Disadur dari: http://www.duniaesai.com/sains/sains16.htm


6 KIAT SUKSES DI KELAS MATEMATIKA
Mengikuti setiap pelajaran matematika di kelas hukumnya wajib bagi setiap pelajar, jika tidak ingin ketinggalan pelajaran. Sekali saja kita tidak mengikuti pelajaran matematika, bisa jadi kita akan ketinggalan materi penting yang akan digunakan dalam pelajaran-pelajaran selanjutnya. Akibatnya kita bisa keteteran dalam seluruh pelajaran matematika. Namun hanya datang dan duduk saja di kelas juga tidak akan banyak membantu kita dalam pelajaran matematika.
Berikut ini 6 kiat agar kita dapat mengikuti pelajaran matematika di kelas dengan baik.

1. Masuk kelas tepat waktu.
Tampaknya ini hal yang sepele, tapi sesungguhnya sangat penting. Seringkali pokok-pokok penting materi pelajaran matematika diberikan guru hanya selama beberapa menit pada awal pelajaran. Jadi usahakan untuk masuk kelas tepat waktu, kalau kita tidak mau ketinggalan hal-hal penting yang disampaikan guru pada saat awal pelajaran.

2. Mendengarkan selama pelajaran berlangsung.
Kita perlu mendengarkan dalam seluruh proses pembelajaran. Seringkali hal ini memang sulit dilakukan, tapi sangat penting bagi kita untuk terus mencoba melakukan dan mengusahakannya. Kadang-kadang gagasan/ide-ide penting tidak selalu dituliskan di papan tulis oleh guru. Perhatikan hal-hal yang disampaikan guru dan khususnya hal-hal yang ditekankan oleh guru, bahkan meskipun itu hanya dikatakan saja dan tidak ditulis di papan tulis. Karena itu bisa berarti bahwa guru menganggap hal itu merupakan sesuatu yang penting. Dan lebih penting lagi, mungkin topik/bagian itu akan keluar dalam ujian/tes.

3. Buatlah catatan yang baik.
Cobalah untuk menulis kembali semua hal yang dituliskan guru di papan tulis. Kadang apa yang dijelaskan guru di papan tulis itu tampak mudah, tapi ketika kita harus mengerjakannya sendiri hal itu seringkali tidak mudah dilakukan. Catatan yang baik akan membantu memudahkan mengingat kembali bagaimana mengerjakan soal-soal tersebut. Beberapa guru kadang tidak menuliskan semua hal yang disampaikannya di papan tulis. Dalam kasus demikian, kita harus mencoba untuk menuliskan penjelasannya sebanyak mungkin di dalam buku catatan. Hal ini tampaknya agak bertentangan dengan kiat sebelumnya. Memang seringkali sulit melakukan keduanya sekaligus, mendengarkan dan mencatat secara bersamaan. Tapi bukan hal yang tidak mungkin dilakukan, hanya memang butuh berlatih terus menerus. Kita butuh mendengarkan semua yang disampaikan guru dalam pelajaran dan sekaligus perlu menuliskan bagian-bagian penting yang dijelaskan oleh guru yang mungkin tidak dituliskan di papan tulis.

4. Bertanya.
Jika tidak mengerti atau tidak memahami suatu topik tertentu yang dijelaskan oleh guru sebaiknya bertanya. Jangan hanya diam dan membiarkan diri kita tidak memahami suatu materi/topik tertentu. Jika kita hanya diam saja, tidak mau bertanya saat kita tidak mengerti tentang suatu materi, maka hal ini akan berdampak pada pemahaman kita tentang materi selanjutnya, kita akan mengalami kesulitan dalam memahami materi selanjutnya. Sekali lagi ingat bahwa Mathematics is Cumulative.

5. Dengarkan jika ada siswa lain yang bertanya.
Jika ada teman yang bertanya, yakinkan bahwa kita mendengarkan pertanyaan tersebut dan memahami jawaban atas pertanyaan itu. Bisa jadi kita sebenarnya juga tidak/belum tahu dengan apa yang ditanyakan oleh teman tersebut.

6. Catat semua agenda/jadwal.
Tulislah semua agenda/jadwal, seperti kapan tugas atau PR dikumpulkan, kapan jadwal ulangan/ tes, dan sebagainya, sehingga tidak lupa.

7 KIAT SUKSES BELAJAR MATEMATIKA DI RUMAH
Kita tidak bisa belajar secara instan, misalnya dengan cara belajar sistem kebut semalam (sks) untuk menguasai setiap materi atau topik dalam pelajaran matematika. Ada beberapa materi atau topik yang kita mesti bekerja keras sebelum memahaminya secara lengkap dan utuh. Salah satu cara untuk mengerti betul-betul suatu materi atau topik pelajaran matematika adalah dengan mempelajarinya kembali di rumah dan mengerjakan sebanyak mungkin soal-soal. Biasanya suatu materi atau topik dalam pelajaran matematika yang semula membingungkan bagi kita akan dapat dipahami dengan mudah setelah kita mengerjakan beberapa soal.
Apa saja yang bisa kita lakukan saat belajar di rumah? Berikut ini 7 kiat agar dapat belajar di rumah dengan baik.

1. Review kembali catatan setelah pelajaran.
Setiap kali setelah pelajaran selesai sebaiknya kita mereview kembali catatan kita. Catat hal-hal atau bagian-bagian yang membuat kita bingung dan buatlah catatan pertanyaan-pertanyaan berkait dengan rumus yang kita tidak tahu atau belum memahaminya untuk ditanyakan pada guru, sehingga akan membantu kita untuk lebih memahami topik tersebut.

2. Pelajari Notasi.
Seringkali guru mengandaikan bahwa siswa tahu dan paham tentang notasi, lambang, simbol dalam matematika, sehingga mau tidak mau siswa memang harus mempelajarinya dengan baik. Kadang ada guru yang tidak memberi nilai, karena notasi, lambang, simbol yang dituliskan salah.

3. Buat kumpulan rumus dan konsep-konsep penting.
Kita bisa membuat kumpulan rumus dan konsep-konsep penting di kertas khusus, buku kecil atau buku saku yang bisa ditempel atau dibawa dan dibuka setiap saat. Ini akan membantu dalam mengingat rumus-rumus dan konsep-konsep penting.

4. Kerjakan PR
Sediakan waktu untuk melihat keseluruhan lagi PR pada hari itu dan cobalah untuk mengerjakannya. Setelah mengerjakan beberapa soal dengan melihat buku atau catatan, cobalah meletakkan buku dan catatan tersebut dan coba untuk mengerjakan sisa soal tanpa menggunakan buku teks atau catatan. Ingat bahwa dalam ujian atau tes, bukankah biasanya kita juga mengerjakan soal ujian dengan tidak dengan membuka buku?! Hal ini dimaksudkan untuk melatih diri kita menghadapi ujian atau tes tentang materi tersebut.
Mengerjakan PR akan memberi kesempatan untuk sungguh lebih memahami materi yang dipelajari hari itu. Jangan mengerjakan PR menunggu hingga batas akhir. Mengerjakan PR ketika deadline hampir selesai seperti itu hanya akan menghasilkan kumpulan PR yang tidak lengkap dan akhirnya juga akan menghasilkan suatu pemahaman yang tidak lengkap tentang konsep yang ada dibalik PR itu.

5. Latihan, latihan dan latihan.
Jangan hanya membatasi diri dengan hanya mengerjakan soal-soal PR yang diberikan oleh guru. Lebih banyak soal yang dikerjakan akan sangat membantu kita. Berlatihlah soal sebanyak mungkin yang kita bisa. Hanya dengan cara ini kita sungguh belajar matematika. Cara belajar matematika yang efektif memang dengan berlatih dan berlatih mengerjakan soal-soal matematika. Lebih banyak kita berlatih mengerjakan soal akan lebih baik bagi diri kita untuk mempersiapkan diri jika saatnya ujian tiba.

6. Belajar Kelompok.
Belajar kelompok akan sangat membantu dalam pelajaran matematika. Seringkali karena diantara masing-masing anggota kelompok belajar melihat sesuatu dengan cara yang berbeda, maka bisa jadi ada yang tahu bagimana cara memecahkan masalah yang tidak dapat kita kerjakan atau ada anggota kelompok belajar yang sudah memahami suatu topik yang kita masih bingung atau belum jelas dan dia bisa membantu menjelaskan topik tersebut kepada kita.

7. Manfaatkan buku teks.
Jika mengalami stuck atau macet dengan suatu topik atau soal yang sedang dikerjakan atau didiskusikan di rumah, jangan lupa bahwa kita mempunyai buku teks atau buku paket pelajaran. Manfaatkan buku pelajaran tersebut. Seringkali buku teks pelajaran memuat contoh-contoh soal yang tidak dikerjakan di kelas atau memuat suatu pendekatan yang berbeda dalam memecahkan suatu soal.

SERI MENGALI CEPAT
Pada seri pertama ini kita akan mengalikan dua bilangan kembar bersatuan 5 dengan angka puluhan tertinggi 9.
Misalnya 15 x 15 = 225
25 x 25 = 625
Bagaimana caranya?
Gunakan Cara: Angka Puluhan x (Angka Puluhan + 1) dan 25.
Mari kita coba!
35 x 35 = ...?
(3 x 4) = 12 tambahkan 25 jadi 1225

Mari kita coba lagi:

75 x 75 = ...?
(7x8)=56 tambahkan 25 jadi 5625.

Silahkan coba dengan angka yang lain, misalnya 45 x 45 ; 65 x 65; dst.


TRIK MENGALI CEPAT KE-2
Mencari perkalian dua bilangan berpuluhan sama yang angka-angka saatuannya berjumlah 10.
Misalnya: 16 x 14 = 224.

Gunakan: Puluhan x (puluhan+1) digabung dengan satuan x satuan.

Mari kita praktekkan:
48 x 42 = . . .?
Cara:
(4x5) dan (8x2)
20 dan 16, Jadi 48 x 42 = 2016 Mudah bukan?

cobalah dengan perkalian yang lain, misalnya: 28 x 22; 56 x 54 ; 17 x 13; 43 x 47; dst.


MENGALI SEMBILAN DENGAN JARI
Gambar 1. 1
Gambar 1.2
Ternyata kita tidak perlu menghafal perkalian 9 dengan susah payah, karena jari kita dapat digunakan untuk menghitung perkalian 9, caranya: hadapkan sepuluh jari dan lipat jari ke dua dari kanan (Gr. 1.2). ternyata jari yang tersisa adalah 1 dan 8, jadi 2x9 = 18.

cobalah dengan 4 x 9 ! Gambar 1. 1, jelas jari yang tersisa 3 dan 6, maka 4 x 9 = 36.
Mudah bukan?
Selamat mencoba perkalian 9 yang lain!



CARA LAIN MENCARI HASIL PERKALIAN

Banyak jalan menuju ke Roma,

Pepatah ini ternyata berlaku juga untuk mencari hasil kali dua bilangan.

Kalau biasanya kita mengali dengan bersusun pendek atau panjang, maka kita akan mencoba mengali dengan teknik fakta perkalian.

Cara mengali 243 x 465 sebagai berikut:

Mula-mula susun tabel seperti di samping:
08 adalah perkalian antara 2 x 4,
16 adalah perkalian antara 4 x 4,
12 adalah perkalian antara 3 x 4,
begitu juga dengan baris ke-2, berturut-turut 12 dari 2 x 6, 24 dari 4 x 6, dan 18 dari 3 x 6.
Untuk baris ke-3 dapat di lihat pada tabel di samping.
Untuk menjumlahkan hasilnya, ikuti garis diagonal dan didapat 5, 8+1+0 = 9, 2+1+4+2+0 = 9, 1+6+2+2+1= 12 ditulis 2 simpan 1, 1+1+8+1 = 11 ditulis 1 simpan 1, dan 1 + 0 = 1. sehingga hasilnya adalah: 112995. cobalah buktikan dengan kalkulator hasil dari 243 x 465.
Selamat Mencoba.


BAGAIMANA DENGAN PERKALIAN LEBIH DARI 5?

Ketika kita kesulitan menghafal perkalian dasar lebih dari 5, maka ada cara mudah dengan menggunakan jari kita.

Caranya:

Simak dulu perjanjian untuk jari tangan kiri dari kelingking hingga ibu jari adalah 6, 7, 8, 9, 10 dan jari kanan mulai dari ibu jari hingga kelingking mewakili 6, 7, 8, 9, 10.

Sekarang perhatikan gambar di atas:
Ini mencari perkalian 7 x 8, terbukti kelingking dan jari manis tangan kiri dilipat dan kelingking, jarimanis dan jari tengah tangan kanan yang dilipat.
Jadi jari-jari yang dilipat menunjukkan puluhan, sedangkan jari yang tidak dilipat menandakan satuan.
ada 5 jari terlipat berarti 50.
ada 3 dan 2 jari yang tidak dilipat berarti 3 x 2 = 6
Jadi 7 x 8 adalah 56.
Mudah bukan?
Cobalah melakukan perkalian 6 x 8, tentu hasilnya jari terlipat 4 dan jari tidak terlipat 4 dan 2, hasilnya 48.
Selamat Mencoba!


RAMALAN TANGGAL LAHIR
Ternyata matematika juga bisa untuk bermain ramalan tanggal lahir. Caranya mudah saja, mintalah teman anda mengatakan ada atau tidak tanggal lahir pada tabel merah, kuning, hijau, biru dan ping. Anda cukup mengingat angka di pojok kiri atas dari tabel yang mendapat jawaban ada dari teman anda. Misalnya tanggal lahir teman anda ada di warna merah, kuning, dan ping. Maka yang dipakai adalah angka 1, 2, dan 16. Angka-angka ini dijumlahkan dan hasilnya 19. Jadi dapat dipastikan kelahirannya tangal 19. Selamat mencoba!
Jika ada kesulitan/ingin tahu cara membuatnya silahkan tulis tanggapan anda!
Salam Matematika.


BELAJAR MATEMATIKA DENGAN TTS

Satu contoh penerapan belajar matematika dengan bermain adalah pembuatan TTS Matematika.

Berikut saya tunjukkan contoh Teka-teki matematika:


Ini adalah salah satu contoh teka-teki matematika dengan topik Penjumlahan dan pengurangan.
Selamat Berkreasi.

TERNYATA ADA CARA MUDAHNYA....

Suatu ketika seorang murid bertanya:

Bagaimana cara mudah menjumlahkan bilangan 1 + 2 + 3 + 4 + dst + 99.

Ternyata bila kita jumlahkan terbalik akan menghasilkan: 100 + 100 + 100 sebanyak 99 kali.
Jadi hasilnya adalah 100 x 99 : 2 = 4950.
Mengapa dibagi 2, karena kita menjumlahkan 2 set bilangan, yaitu 1 s/d 99 dengan 99 s/d 1.
Jadi jawabannya adalah empat ribu sembilan ratus lima puluh.
Untuk membuktikannya silahkan jumlahkan 1 + 2 + 3 + 4 + dan seterusnya hingga + 99.
Kalau 1 + 2 + 3 + ... + 1999 = ...? (semoga hasilnya sama dengan 1.999.000)


MUDAH MENGALI DENGAN 11
Untuk mengalikan sebuah bilangan dengan sebelah gunakan saja istilah jumlah dan jumlah dengan tetangga.
Misalnya 1324 x 11 = …?
Jumlahkan dari satuannya, yaitu: 0+4= 4, 4+2 = 6, 2 + 3 = 5, 3 + 1 = 3, dan 1 + 0 = 1, maka jawabannya adalah 13564. Mudah bukan?

Sekarang dapatkah mencari: 35423 x 11= …?
Jika jawabannya 389653, maka anda sudah mengerti. Selamat berlatih!


MUDAH MENGALI DENGAN 22
Cara mudah mengali dengan 22, kita akan menggunakan cara:
PS x 22 = (Px2) (P+S)x2 (Sx2)
Mari kita coba dengan 26 x 22 =…?
26 x 22 = (2x2) (2+6)x2 (6x2)
= 4 16 12
= (4+1) (6+1) 2
= 5 7 2
Jadi 26 x 22 = 572
Coba cari 46 x 22 = …? Kalau jawabannya 1012, berarti anda sudah mengerti.

MENGALI DENGAN 25
Untuk mengali 25 dengan bilangan kelipatan 4 kita menggunakan perkalian 4x25=100.
Misalnya 8 x 25 = …?
Karena 8:4 = 2, maka 8x25 = 200.
Cobalah 12 x 25, 16 x 25, 20 x 25 dan 36 x 25 ! Jawabannya adalah 300, 400, 500 dan 600.
Mudah bukan?


TRIK MENGALI DENGAN PANGKAT SEPULUH
Kita dapat menghitung jumlah nol yang ditambahkan, misalnya jika dikali 10, tambahkan nol satu, jika 100 tambahkan nol dua, jika dikali dengan 1.000 tambahkan tiga nol di belakang bilangan yang dikali.
Misalnya:
13 x 10 = 130
13 x 100 = 1.300
13 x 1.000 = 13.000
13 x 10.000 = 130.000 dan seterusnya.
Mudah bukan?

MUDAH MENGALI DENGAN 33
Sekarang kita akan belajar mengali dengan bilangan 33. Cara yang digunakan:
PS x 33 = (Px3) (P+S)x3 (Sx3), Mari kita coba dengan 24 x 33 = …?
24 x 33 = (2x3) (2+4)x3 (4x3)
= 6 18 12
= (6+1) (8+1) 2
= 7 9 2
Jadi 24 x 33 = 792. Bagaimana dengan 54 x 33 = …? Jawabannya 1782.
Selamat bereksperimen!


SERI TRIK PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DASAR
Ke-1:
1. Gambarlah permasalahannya
Misalnya:
Pada perlombaan lari, B lebih cepat 2 detik dari C, D lebih cepat 7 detik dari A, dan A lebih lambat 3 detik dari B. Tentukan juara I, II dan III dalam perlombaan ini!
Penyelesaiannya:
Menggambar A, B, C, dan D dalam satu garis sesuai informasi yang ada.


Coba pecahkan!
Titk A, B, C, dan D terletak pada sebuah garis luru. Jarak A dan C 9 cm. Jarak B dan D 7 cm. Jarak Antara A dan D 12 cm. Berapa jarak C dan D?

SERI TRIK PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DASAR III
Ke-3:
Tebak dan pelajari
Disebuah kandang ternak terdapat 22 binatang yang terdiri dari ayam dan kambing. Jika jumlah kaki seluruhnya 68, berapa banyak ayam dan berapa jumlah kambing dalam peternakan itu?
Penyelesaian:
Coba tebak dan pelajari tebakannya:
Ayam Kambing Jumlah Kaki Keterangan
Tebakan ke-1 20 2 40 + 8 = 48 48 < 68
Tebakan ke-2 15 7 30 + 28 = 58 58 < 68
Tebakan ke-3 10 12 20 + 48 = 68 Tepat
Jadi jumlah ayam 10 ekor, sedangkan kambingnya 12 ekor.

Cobalah pecahkan!
Ada 19 lembar uang kertas di dalam dompet ayah. Nilai seluruhnya Rp47.000,00.
Uang kertasnya terdiri dari Rp1.000,00 dan Rp5.000,00. Berapa lembar uang kertas Rp1.000,00 dan berapa lembar uang Rp5.000,00.


SERI TRIK PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DASAR IV
Ke-4:
Memperhatikan pola yang terbentuk
Buktikan bahwa 2 pangkat 0 adalah 1.
Penyelesaian:

Coba pecahkan!
Setiap hari Jarot mendapat uang ajajan dari ayahnya. Suatu hari ayahnya memberikan dua pilihan kepada Jarot. Pilihan pertama adalah ayah memberikan uang jajan satu minggu sekali. Setiap minggu Jarot akan mendapatkan Rp50.000,00. Pilihan kedua adalah tanggal 1 Jarot mendapatkan Rp50,00, tanggal 2 Rp100,00, tanggal 3 Jarot mendapatkan Rp200,00, tanggal 4 Jarot mendapat Rp400,00, tanggal 5 mendapatkan Rp800,00, demikian seterusnya sampai akhir bulan. Pilihan mana yang sebaiknya dipilih oleh Jarot?


TRIK MELIHAT BILANGAN HABIS DIBAGI ...
Dalam belajar matematika sering kita diminta untuk membagi sebuah bilangan, misalnya pada topic faktorisasi, FPB, KPK, dan lain-lain, barangkali dengan bekal pengetahuan ini dapat membantu memudahkan pemecahan masalah:
1. Bilangan habis dibagi 2
Jika bilangan yang dimaksud bersatuan genap atau nol.
Misalnya:
Apakah 576 habis dibagi 2? Ya, satuannya adalah 6 dan 6 merupakan anggota bilangan genap. Tepatnya 576:2= 288
Apakah 57730 habis dibagi 2? Ya, satuan bilangan ini adalah 0, jadi habis dibagi 2. tepatnya 57730 : 2 = 28.865
2. Bilangan habis dibagi 3
Jika jumlah angka-angka penyusun bilangannya habis dibagi 3.
Misalnya:
Apakah 22.623 habis dibagi 3?
Jumlahkan: 2+2+6+2+3 = 15 dan 15 : 3 = 5
Maka 22.623 habis dibagi 3. Tepatnya 22623 : 3 = 7541
Apakah 4.325 habis dibagi 3?
Jumlahkan: 4+3+2+5 = 14, karena 14 : 3 = 4 sisa 2
Maka 4.325 tidak habis dibagi 3.

3. Bilangan habis dibagi 4
Bilangan habis dibagi 4 jika dua angka terakhir penyusun bilangan itu dapat dibagi 4.
Misalnya:
Apakah 21.868 habis dibagi 4?
Bilangan ini mempunyai dua angka terakhir 68, dan 68 : 4 = 17.
Jadi 21.868 habis dibagi 4.
Tepatnya 21.868 : 4 = 5.467

4. Bilangan habis dibagi 5
Bilangan habis dibagi 5 jika angka terakhir bilangan itu 5 atau 0.
Misalnya:
Apakah 460 habis dibagi 5?
Bilangan ini berakhiran angka 0, maka bialangan ini habis dibagi 5.
Tepatnya 460 : 5 = 92

5. Bilangan habis dibagi 6
Bilangan habis dibagi 6 jika habis dibagi 2 dan 3
Cukup jelas.

6. Bilangan habis dibagi 8
Bilangan habis dibagi 8 jika tiga angka terakhir bilangan ini habis dibagi 8.
Misalnya:
Apakah 19.488 habis dibagi 8?
Tiga angka terakhirnya 488, sedangkan 488 : 8 = 61, maka 19.488 habis dibagi 8. Tepatnya 19.488 : 8 = 2.436

7. Bilangan habis dibagi 9
Bilangan habis dibagi 9 jika jumlah angka-angkanya habis dibagi 9.
Misalnya:
Apakah 392.913 habis dibagi 9?
Jumlah 3+9+2+9+1+3 = 27 dan 27 habis dibagi 9.
Jadi 392.913 habis dibagi 9. Tepatnya 392.913 : 9 = 43.657


BILANGAN BULAT
Untuk memudahkan mempelajari penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat, biasanya dibuat cerita singkat, misalnya:
-4 + 3 = ... /
ada 4 pasukan negatip bertempur dengan 3 pasukan positip, masing-masing pasukan dapat membunuh satu lawannya, setelah pertempuran tersisa 1 pasukan negatip.
Jadi -4 + 3 = -1
Bagaimana kalau:
-10 + 15 = ...?
ada 10 pasukan negatip bertempur dengan 15 pasukan positip, masing-masing pasukan dapat membunuh satu lawannya, setelah pertempuran tersisa 5 pasukan positip.
Jadi -10 + 15 = 5
Bagaimana kalau 5 - 8 = . . . ?
Bentuk ini dapat ditulis dengan 5 + (-8) = ...?
Jadi setelah perang tersisa 3 pasukan negatip.
Sehingga 5 - 8 = -3
Bagaimana jika 2 - (-4) =...?
ada 2 pasukan positip, ada 4 pasukan negatip yang bertobat hingga menjadi pasukan positip. maka pasukan positip menjadi 6.
Jadi 2 - (-4) = 6
Begitulah cara agar mudah memahami operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.

Selamat belajar.


SERI TRIK PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DASAR VII
Ke-7:
Bekerja Mundur
Saputra ada janji belajar kelompok dirumahnya pada pukul 10.15, sementara hari itu ia banyak kegiatan, diantaranya harus les musik, pulang nya harus membawa coklat untuk adiknya. Perjalanan dari rumah ke tempat les musik 15 menit, lama les satu jam setengah, tempat dari les musik ke toko coklat 30 menit, dari toko coklat kerumah 30 menit. Pukul berapa Saputra berangkat dari rumah agar ia dapat menepati janji belajar kelompok tepat waktunya?
Penyelesaian: 10.15 – 15 menit – 1 jam 30 menit – 30 menit – 30 menit = 7.30.

Coba Pecahkan!
Adi mengalikan sebuah bilangan dengan 8, padahal seharusnya ia membagi bilangan tersebut dengan 8. Hasilnya ia mendapatkan 128. Berapakah bilangan yang seharusnya ia dapatkan?
Diposkan oleh Priyonohadisaputra di 16:46 0 komentar
SERI TRIK PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DASAR VI
Ke-6:

Menyederhanakan Masalah
Misalnya ada berapa persegi dapat dibentuk dari persegi satuan sebanyak 4 x 4!


Penyelesaian:
Untuk ukuran 1 x 1 dapat dibentuk 1 persegi (gb 1)
Untuk ukuran 2 x 2 dapat dibentuk 5 persegi (gb 2)
Untuk ukuran 3 x 3 dapat dibentuk 14 persegi (gb 3)
Jadi untuk ukuran 4x4 dapat dibentuk 30 persegi, dapatkah anda menggambarkannya?

Coba Pecahkan!

Berapa jumlah dari:

Diposkan oleh Priyonohadisaputra di 16:45 0 komentar
SERI TRIK PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DASAR V
Ke-5:

Lakukan percobaan dengan model
Perhatikan gambar di bawah ini! Buang dua korek api, sehingga terbentuk 4 segitiga sama sisi.
Coba Pecahkan!
Ada tiga tumpukan batu, masing-masing terdiri dari 17 batu, 24 batu dan 7 batu. Dalam setiap langkah Aini menggandakan banyaknya batu dari satu tumpukan dengan batu dari tumpukan lain. Aini hanya boleh mengambil batu dari satu tumpukan saja. Berapa langkah paling sedikit yang harus Aini lakukan agar banyaknya batu di ketiga tumpukan tersebut sama?
Diposkan oleh Priyonohadisaputra di 16:42 0 komentar
SERI TRIK PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DASAR IV
Ke-4:
Memperhatikan pola yang terbentuk
Buktikan bahwa 2 pangkat 0 adalah 1.
Penyelesaian:

Coba pecahkan!
Setiap hari Jarot mendapat uang ajajan dari ayahnya. Suatu hari ayahnya memberikan dua pilihan kepada Jarot. Pilihan pertama adalah ayah memberikan uang jajan satu minggu sekali. Setiap minggu Jarot akan mendapatkan Rp50.000,00. Pilihan kedua adalah tanggal 1 Jarot mendapatkan Rp50,00, tanggal 2 Rp100,00, tanggal 3 Jarot mendapatkan Rp200,00, tanggal 4 Jarot mendapat Rp400,00, tanggal 5 mendapatkan Rp800,00, demikian seterusnya sampai akhir bulan. Pilihan mana yang sebaiknya dipilih oleh Jarot?


BILANGAN BULAT
Untuk memudahkan mempelajari penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat, biasanya dibuat cerita singkat, misalnya:
-4 + 3 = ... /
ada 4 pasukan negatip bertempur dengan 3 pasukan positip, masing-masing pasukan dapat membunuh satu lawannya, setelah pertempuran tersisa 1 pasukan negatip.
Jadi -4 + 3 = -1
Bagaimana kalau:
-10 + 15 = ...?
ada 10 pasukan negatip bertempur dengan 15 pasukan positip, masing-masing pasukan dapat membunuh satu lawannya, setelah pertempuran tersisa 5 pasukan positip.
Jadi -10 + 15 = 5
Bagaimana kalau 5 - 8 = . . . ?
Bentuk ini dapat ditulis dengan 5 + (-8) = ...?
Jadi setelah perang tersisa 3 pasukan negatip.
Sehingga 5 - 8 = -3
Bagaimana jika 2 - (-4) =...?
ada 2 pasukan positip, ada 4 pasukan negatip yang bertobat hingga menjadi pasukan positip. maka pasukan positip menjadi 6.
Jadi 2 - (-4) = 6
Begitulah cara agar mudah memahami operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.

Selamat belajar.
Diposkan oleh Priyonohadisaputra di 18:48 0 komentar

Model Rencana Pembelajaran dengan Pendekatan Konstektual

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : SMA kelas X/Semester 1
Materi Pembelajaran : Q.S. Al-Baqarah, 2: 30, Al-Mu’minūn, 23: 12–14, Aż-Żāriyāt,
51: 56, dan An-Nahl, 16: 78
Pendekatan : Pengamalan, pembinaan dan pembiasaan, rasional, emosional,
dan fungsional
Metode : Demonstrasi, latihan, tanya jawab, dan pemberian tugas
Waktu : 4 jam pelajaran (2x pertemuan)

A. Standar Kompetensi
Memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang manusia dan tugasnya sebagai khalifah di bumi.

B. Kompetensi Dasar
1.1. Membaca Q.S. Al-Baqarah: 30, Al-Mu’minūn: 12–14, Aż-Żāriyāt: 56, dan An-Nahl: 78.
1.2. Menyebutkan arti Q.S. Al-Baqarah: 30, Al-Mu’minūn: 12–14, Aż-Żāriyāt: 56, dan An-Nahl: 78.
1.3. Menampilkan perilaku sebagai khalifah di bumi seperti terkandung dalam Q.S. Al-Baqarah: 30, Al-Mu’minūn: 12–14, Aż-Żāriyāt: 56, dan An-Nahl: 78.

C. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
1..1. Mampu membaca Q.S. Al-Baqarah: 30, Al-Mu’minūn: 12–14, Aż-Żāriyāt: 56, dan An-Nahl: 78 dengan baik dan benar.
1..2. Mampu mengidentifikasi tajwid Q.S. Al-Baqarah: 30, Al-Mu’minūn: 12–14, Aż-Żāriyāt: 56, dan An-Nahl: 78.
1..1. Mampu mengartikan per kata dengan benar dari Q.S. Al-Baqarah: 30, Al-Mu’minūn: 12–14, Aż-Żāriyāt: 56, dan An-Nahl: 78.
1..2. Mampu mengartikan per ayat dengan benar Q.S. Al-Baqarah: 30, Al-Mu’minūn: 12–14, Aż-Żāriyāt: 56, dan An-Nahl: 78.
1..3. Mampu menerjemahkan dengan benar Q.S. Al-Baqarah: 30, Al-Mu’minūn: 12–14, Aż-Żāriyāt: 56, dan An-Nahl: 78.
1.3.1. Mampu mengidentifikasi perilaku khalifah dalam Q.S. Al-Baqarah: 30, Al-Mu’minūn: 12–14, Aż-Żāriyāt: 56, dan An-Nahl: 78.
1.3.2. Mampu mempraktekkan perilaku khalifah sesuai dengan Q.S. Al-Baqarah: 30, Al-Mu’minūn: 12–14, Aż-Żāriyāt: 56, dan An-Nahl: 78.
1.3.3. Mampu menunjukkan perilaku khalifah dalam kehidupan.

D. Uraian Materi Pembelajaran
Materi pokok: Q.S. Al-Baqarah, 2: 30, Al-Mu’minūn, 23: 12–14, Aż-Żāriyāt, 51: 56, dan An-Nahl, 16: 78.
Uraian materi pokok:
a. Surah Al-Baqarah, 2: 30 tentang peranan manusia sebagai khalifah.
• Bacaan dan penjelasan bacaan (tajwid).
• Terjemahan harfiah (per kata) dan terjemahan ayat.
• Kesimpulan dan penjelasan.
b. Surah Al-Mu’minūn, 23: 12–14 tentang kejadian manusia
 Bacaan dan penjelasan bacaan (tajwid).
 Terjemahan harfiah (per kata) dan terjemahan ayat.
 Kesimpulan dan penjelasan.
c. Surah Aż-Żāriyāt, 51: 56 tentang tugas manusia
 Bacaan dan penjelasan bacaan (tajwid).
 Terjemahan harfiah (per kata) dan terjemahan ayat.
 Kesimpulan dan penjelasan.
d. Surah An-Nahl, 16: 78 tentang kewajiban manusia untuk bersyukur
 Bacaan dan penjelasan bacaan (tajwid).
 Terjemahan harfiah (per kata) dan terjemahan ayat.
 Kesimpulan dan penjelasan.

E. Pengalaman Belajar
 Membaca dengan fasih Q.S. Al-Baqarah, 2: 30, Al-Mu’minūn, 23: 12–14, Aż-Żāriyāt, 51: 56, dan An-Nahl, 16: 78.
 Mengindentifikasi tajwid Q.S. Al-Baqarah, 2: 30, Al-Mu’minūn, 23: 12–14, Aż-Żāriyāt, 51: 56, dan An-Nahl, 16: 78.
 Mengartikan secara per kata dan per ayat dari ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.
 Mengidentifikasi perilaku khalifah sebagaimana tercantum dalam ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.
 Mempraktekkan dan menunjukkan perilaku khalifah dalam kehidupan.
 Mengerjakan soal-soal latihan dari materi pembelajaran tersebut (Bab 1).
 Mengikuti ulangan harian dari materi pembelajaran tersebut.

F. Media Pembelajaran
1. Alat: - Al-Qur’an dan terjemahnya
- OHP dan lingkungan sekitar
2. Sumber bahan: Buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga

G. Skenario Pembelajaran
a. Pendahuluan
1. Tadarus Al-Qur’an (5–10 menit)
2. Apersepsi
3. Informasi indikator pencapaian hasil belajar



b. Kegiatan Inti
1. Membaca dengan fasih, benar, dan baik sesuai dengan tajwid Q.S. Al-Baqarah, 2: 30, Al-Mu’minūn, 23: 12–14, Aż-Żāriyāt, 51: 56, dan An-Nahl, 16: 78.
2. Mengartikan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut secara per kata dan per ayat.
3. Tanya jawab dan diskusi tentang kandungan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.
4. Menjelaskan perilaku manusia sebagai khalifah.
c. Penutup
1. Menyimpulkan materi.
2. Post test.
3. Pemberian tugas mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat dalam buku Pendidikan Agama Islam Kelas X Bab 1.

H. Penilaian
a. Prosedur
1. Penilaian proses belajar dengan observasi dan tugas.
2. Perilaku hasil belajar melalui soal-soal latihan dan ulangan harian.
b. Alat penilaian, berbentuk soal-soal pilihan ganda, esay, dan tugas membaca Al-Qur’an


Jakarta, 2007
Mengetahui, Guru mata pelajaran
Kepala SMA


(___________) (________________)
NIP: NIP:





























Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : SMA kelas X/Semester 1
Materi Pembelajaran : Q.S. Al-An’am: 162–163 dan Q.S. Al-Bayyinah: 5
Pendekatan : Pengamalan, pembinaan dan pembiasaan, rasional, emosional,
dan fungsional
Metode : Demonstrasi, latihan, tanya jawab, dan pemberian tugas
Waktu : 2x45 Menit

A. Standar Kompetensi
Memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang keikhlasan beribadah.

B. Kompetensi Dasar
2.1. Membaca Q.S. Al-An’am: 162–163 dan Q.S. Al-Bayyinah: 5.
2.2. Menyebutkan arti ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.
2.3. Menampilkan perilaku ikhlas beribadah seperti terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.

C. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
2.1.1. Mampu membaca dengan baik dan benar Q.S. Al-An’am: 162 – 163 dan Q.S. Al-Bayyinah: 5.
2.1.2. Mampu mengidentifikasi tajwid dari ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.
2.2.1. Mampu mengartikan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut secra per kata (harfiah).
2.2.2. Mampu mengartikan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut secara per ayat dan mampu pula menerjemahkannya.
2.3.1. Mampu mengidentifikasi perilaku ikhlas dalam beribadah sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.
2.3.2. Mampu mempraktekkan perilaku ikhlas dalam beribadah sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.
2.3.3. Mampu menerapkan perilaku ikhlas dalam beribadah dalam kehidupan.

D. Uraian Materi Pembelajaran
Materi pokok: Q.S. Al-An’am: 162–163 dan Q.S. Al-Bayyinah: 5.
Uraian materi pokok:
a. Surah Al-An’am: 162–163 tentang keikhlasan beribadah.
• Bacaan dan penjelasan bacaan berdasarkan kaidah ilmu tajwid.
• Terjemahan harfiah (per kata) dan terjemahan ayat.
• Kesimpulan dan penjelasan tetang makna/kandungan Al-Qur’an tersebut.
b. Surah Al-Bayyinah: 5 tentang keikhlasan beribadah.
• Bacaan dan penjelasan bacaan berdasarkan kaidah ilmu tajwid.
• Terjemahan harfiah (per kata) dan terjemahan ayat.
• Kesimpulan dan penjelasan tetang makna/kandungan Al-Qur’an tersebut.

E. Pengalaman Belajar
 Membaca dengan fasih Q.S. Al-An’am: 162–163 dan Q.S. Al-Bayyinah: 5.
 Mengidentifikasi tajwid ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.
 Mengartikan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut secara per kata, per ayat, dan mampu pula menerjemahkannya.
 Mengidentifikasi perilaku ikhlas dalam beribadah sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.
 Mempraktekkan perilaku ikhlas dalam beribadah sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.
 Mengerjakan soal-soal latihan dari materi pembelajaran tersebut (Bab 2).
 Mengikuti ulangan harian dari materi pembelajaran tersebut (Bab 2).

F. Media Pembelajaran
1. Alat: - Al-Qur’an dan terjemahannya
- OHP dan lingkungan sekitar
2. Sumber bahan: Buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga

G. Skenario Pembelajaran
a. Pendahuluan
1. Tadarus Al-Qur’an (5–10 menit)
2. Apersepsi
3. Informasi indikator pencapaian hasil belajar
b. Kegiatan Inti
1. Membaca dengan fasih, benar, dan baik sesuai dengan tajwid Q.S. Al-An’am: 162–163 dan Q.S. Al-Bayyinah: 5.
2. Mengartikan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut secara per kata (harfiah), per ayat, dan menerjemahkannya.
3. Tanya jawab dan diskusi tentang kandungan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.
4. Menjelaskan kewajiban berperilaku ikhlas dalam beribadah.
c. Penutup
1. Menyimpulkan materi
2. Postes
3. Pemberian tugas mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat dalam buku Pendidikan Agama Islam Kelas X (Bab 2) Penerbit Erlangga.






H. Penilaian
a. Prosedur
1. Penilaian proses belajar dengan observasi, tanya jawab, dan tugas.
2. Penilaian hasil belajar melalui tugas mengerjakan soal-soal latihan Bab 2 dan ulangan harian Bab 2.
b. Alat-alat penilaian berupa Internalisasi Budi Pekerti Islami, soal-soal pilihan ganda dan esay, dan pemberian tugas membaca ayat-ayat Al-Qur'an

Model Rencana Pembelajaran dengan Pendekatan Konstektual

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : SMA kelas X/Semester 1
Materi Pembelajaran : Iman kepada Allah SWT
Pendekatan : Pengamalan, pembinaan dan pembiasaan, rasional, emosional,
dan fungsional
Metode : Ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas
Waktu : 4 jam pelajaran (2x pertemuan)

A. Standar Kompetensi
Meningkatkan keimanan kepada Allah SWT melalui pemahaman sifat-Sifat-Nya dalam Asmaul Husna.

B. Kompetensi Dasar
3.1. Menyebutkan 10 sifat Allah dalam Asmaul Husna.
3.2. Menjelaskan arti 10 sifat Allah dalam Asmaul Husna.
3.3. Menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan terhadap 10 sifat Allah dalam Asmaul Husna.

C. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
3.1.1. Mampu menjelaskan pengertian iman kepada Allah SWT dan pengertian Asmaul Husna.
3.1.2. Mampu menyebutkan arti sifat Allah.
3.1.3. Mampu menyebutkan arti 10 sifat Allah dalam Asmaul Husna.
3.2.1. Mampu menjelaskan arti 10 sifat Allah dalam Asmaul Husna.
3.2.2. Mampu menjabarkan 10 sifat Allah ke dalam sifat manusia.
3.3.1. Mampu mempraktekkan sifat-sifat Allah yang sepatutnya bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari.
3.3.2. Mampu menerapkan perilaku yang mencerminkan penghayatan terhadap 10 sifat Allah dalam Asmaul Husna.

D. Uraian Materi Pembelajaran
Materi pokok: Iman kepada Allah SWT
Uraian materi pokok:
a. Pengertian Iman kepada Allah SWT
b. Sifat-sifat Allah dalam Asmaul Husna
• Pengertian Asmaul Husna
• Penjelasan 10 sifat Allah dalam Al-Asmaul Husna
• Perilaku orang beriman terhadap 10 sifat Allah SWT dalam Asmaul Husna:
1. Berusaha selalu berbuat baik dan berkasih sayang.
2. Berusaha menjadi mukmin yang bertakwa.
3. Memelihara kesucian diri.
4. Menjaga keselamatan diri dan orang lain.
5. Menjadi orang yang terpercaya dan dapat memberikan rasa aman kepada sesama.
6. Berperilaku adil.
7. Berusaha menjadi orang yang pemaaf.
8. Menjadi pemimpin yang baik.
9. Berperilaku bijaksana.
10. Bermuhasabah (instropeksi diri).

E. Pengalaman Belajar
 Membaca buku sumber yang berkaitan dengan materi pembelajaran yaitu buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga Bab 3.
 Diskusi dan tanya jawab tentang pengertian sifat-sifat Allah dan 10 sifat Allah dalam Asmaul Husna.
 Menjabarkan arti 10 sifat dalam Asmaul Husna (Ar-Rahman, As-Salam, Al-Qudus, Al-Mu’min, Al-‘Adlu, Al-Gafur, Al-Hakim, Al-Malik, dan Al-Hasib).
 Mempraktekkan sifat-sifat Allah SWT yang sepatutnya bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari.
 Menerapkan perilaku yang mencerminkan sifat-sifat Allah SWT yang sepatutnya bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari.
 Mengerjakan soal-soal latihan Bab 3 tentang Iman kepada Allah SWT.
 Mengikuti ulangan umum harian dari materi pembelajaran Bab 3.

F. Media Pembelajaran
1. Alat: - Al-Qur'an dan terjemahnya
- OHP dan lingkungan sekitar
2. Sumber bahan: Buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.

G. Skenario Pembelajaran
a. Pendahuluan
1. Tadarus Al-Qur’an (5–10 menit).
2. Apersepsi.
3. Informasi tentang indikator pencapaian hasil belajar.
b. Kegiatan Inti
1. Membaca, mendiskusikan, dan tanya jawab tentang materi pembelajaran dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.
2. Menjabarkan arti dari 10 sifat dalam Asmaul Husna.
3. Menjelaskan sifat-sifat Allah yang seoatutnya bagi manusia untuk kemudian diterapkan dalam kehidupa sehari-hari.
c. Penutup
1. Menyimpulkan materi pembelajaran
2. Post test
3. Pemberian tugas mengerjakan soal-soal latihan Bab 3 (Iman kepada Allah SWT) dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.

H. Penilaian
a. Prosedur
1. Penilaian proses belajar melalui: pengalaman, observasi, tanggung jawab, dan tegas.
2. Penilaian hasil belajar melalui tugas individu untuk mengerjakan soal-soal latihan Bab 3 dan mengikuti ulangan harian Bab 3.
b. Alat penilaian: lembar pengamatan dan soal-soal pilihan ganda dan esay


Jakarta, 2007
Mengetahui, Guru mata pelajaran
Kepala SMA


(___________) (________________)
NIP: NIP:























Model Rencana Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : SMA kelas X/Semester 1
Materi Pembelajaran : Perilaku Terpuji
Pendekatan : Pengamalan, pembinaan dan pembiasaan, rasional, emosional,
dan fungsional
Metode : Ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas
Waktu : 4 jam pelajaran (2x pertemuan)

A. Standar Kompetensi
Membiasakan perilaku terpuji.

B. Kompetensi Dasar
4.1. Menyebutkan pengertian perilaku husnuzan.
4.2. Menyebutkan contoh-contoh perilaku husnuzan terhadap Allah SWT, diri sendiri, dan sesama manusia.
4.3. Membiasakan perilaku husnuzan dalam kehidupan sehari-hari.

C. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
4.1.1. Mampu menyebutkan pengertian husnuzan terhadap Allah SWT.
4.1.2. Mampu menyebutkan pengertian husnuzan terhadap diri sendiri.
4.1.3. Mampu menyebutkan perilaku husnuzan terhadap sesama manusia.

4.2.1. Mampu menyebutkan contoh husnuzan terhadap Allah SWT.
4.2.2. Mampu menyebutkan contoh husnuzan terhadap diri sendiri.
4.2.3. Mampu menyebutkan contoh husnuzan terhadap sesama manusia.

4.3.1. Menunjukkan sikap husnuzan terhadap Allah.
4.3.2. Menunjukkan sikap husnuzan terhadap diri sendiri.
4.3.3. Menunjukkan sikap husnuzan terhadap sesama manusia.

D. Uraian Materi Pembelajaran
Materi pokok: Perilaku Terpuji
Uraian materi pokok:
a. Pengertian perilaku husnuzan.
b. Contoh-contoh perilaku husnuzan.
• Husnuzan terhadap Allah, antara lain melalui syukur dan sabar.
• Husnuzan terhadap diri sendiri, dengan cara percaya diri, gigih, dan berinisiatif.
• Husnuzan terhadap sesama manusia, yang diterapkan dalam kehidupan berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
• Membiasakan diri berperilaku husnuzan dalam kehidupan sehari-hari.

E. Pengalaman Belajar
 Membaca buku sumber tentang husnuzan yang terdapat dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 4, Penerbit Erlangga.
 Mendiskusikan penegrtian perilaku husnuzan.
 Mengidentifikasi perilaku-perilaku yang berkaitan dengan husnuzan.
 Mendiskusikan contoh-contoh perilaku husnuzan terhadap Allah, diri sendiri, dan sesama manusia.
 Mempraktekkan contoh-contoh perilaku husnuzan terhadap Allah, diri sendiri, dan sesama manusia.

F. Media Pembelajaran
1. Alat: - Al-Qur'an dan terjemahnya
- OHP dan lingkungan sekitar
2. Sumber bahan: Buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 4, Penerbit Erlangga.

G. Skenario Pembelajaran
a. Pendahuluan
1. Tadarus Al-Qur’an (5–10 menit)
2. Apersepsi
3. Informasi tentang indikator pencapaian hasil belajar
b. Kegiatan Inti
1. Membaca, mendiskusikan, dan tanya jawab tentang materi pembelajaran Husnuzan dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 4, Penerbit Erlangga.
2. Mendiskusikan pengertian perilaku husnuzan.
3. Mengidentifikasi perilaku-perilaku yang berkaitan dengan husnuzan.
4. Mendiskusikan contoh-contoh perilaku husnuzan terhadap Allah, diri sendiri, dan sesama manusia.
5. Mempraktekkan contoh-contoh perilaku husnuzan terhadap Allah, diri sendiri, dan sesama manusia.
c. Penutup
1. Menyimpulkan materi pembelajaran
2. Post test
3. Pemberian tugas yaitu mengerjakan soal-soal latihan Bab 4 (Perilaku Terpuji) dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.







H. Penilaian
a. Prosedur
1. Penilaian proses belajar melalui: pengamatan, observasi, tanya jawab, dan tugas.
2. Penilaian hasil belajar melalui tugas individu untuk mengerjakan soal-soal latihan Bab 4 dan mengikuti ulangan harian Bab 4.
b. Alat penilaian: lembar pengamatan dan soal-soal pilihan ganda dan esay.



Jakarta, 2007
Mengetahui, Guru mata pelajaran
Kepala SMA


(___________) (________________)
NIP: NIP:

Model Rencana Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : SMA kelas X/Semester 1
Materi Pembelajaran : Sumber Hukum Islam, Hukum Taklifi, dan Hukum Wad’i
Pendekatan : Pengamalan, pembinaan dan pembiasaan, rasional, emosional,
dan fungsional
Metode : Ceramah, diskusi, tanya jawab, dan pemberian tugas
Waktu : 6 jam pelajaran (3x pertemuan)

A. Standar Kompetensi
Memahami sumber hukum Islam, hukum taklifi, dan hukum wad’i.

B. Kompetensi Dasar
5.1. Menyebutkan pengertian kedudukan dan fungsi Al-Qur'an, hadis, dan ijtihad sebagai sumber hukum Islam.
5.2. Menjelaskan pengertian, kedudukan, dan fungsi hukum taklifi dan hukum wad’i dalam hukum Islam.
5.3. Menerapkan hukum taklifi dan hukum wad’i dalam kehidupan sehari-hari.

C. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
5.1.1. Mampu menjelaskan pengertian Al-Qur'an, hadis, dan ijtihad sebgao sumber hukum Islam.
5.1.2. Mampu menjelaskan kedudukan dan fungsi Al-Qur'an, hadis, dan ijtihad sebagai sumber hukum Islam.
5.1.3. Mampu menjelaskan fungsi hadis terhadap Al-Qur'an.
5.2.1. Mampu menjelaskan pengertian, kedudukan, dan fungsi hukum taklifi dan hukum wad’i.
5.2.2. Mampu menunjukkan, mempraktekkan, dan menerapkan perilaku yang sesuai dengan hukum taklifi dan hukum wad’i.

D. Uraian Materi Pembelajaran
Materi pokok: Sumber Hukum Islam, Hukum Taklifi, dan Hukum Wad’i.
Uraian materi pokok:
a. Sumber Hukum Islam
• Pengertian hukum dan sumber hukum Islam.
• Pengertian, kedudukan, dan fungsi Al-Qur'an.
• Pengertian, kedudukan, dan fungsi hadis.
• Pengertian, kedudukan, dan fungsi ijtihad.
b. Hukum Taklifi dan Hukum Wad’i
• Pengertian, kedudukan, dan fungsi hukum taklifi dan hukum wad’i.
• Penerapan hukum taklifi dan hukum wad’i dalam kehidupan sehari-hari.


E. Pengalaman Belajar
 Membaca materi pelajaran Bab 5 (Sumber Hukum Islam, Hukum Taklifi, dan Hukum Wad’i) dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 5, Penerbit Erlangga.
 Berusaha memahami pengertian huku dan sumber hukum Islam.
 Mendiskusikan pengertian, kedudukan, dan fungsi Al-Qur'an, hadis, dan ijtihad.
 Mendiskusikan pengertian, kedudukan, dan fungsi hukum taklifi dan hukum wad’i.
 Mendiskusikan contoh-contoh perilaku yang sesuai dengan hukum taklifi dan hukum wad’i serta mempraktekkan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

F. Media Pembelajaran
1. Alat: - Al-Qur'an dan terjemahnya
- OHP dan lingkungan sekitar
2. Sumber bahan: Buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 5, Penerbit Erlangga.

G. Skenario Pembelajaran
a. Pendahuluan
1. Tadarus Al-Qur'an (5–10 menit)
2. Apersepsi
3. Informasi tentang Indikator Hasil Belajar
b. Kegiatan Inti
1. Membaca, mendiskusikan, dan tanya jawab tentang materi pembelajaran Bab 5 dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.
2. Mendiskusikan pengertian hukum dan sumber hukum Islam.
3. Mendiskusikan pengertian, kedudukan, dan fungsi hukum taklifi dan hukum wad’i.
4. Mendiskusikan contoh-contoh perilaku yang sesuai dengan hukum taklifi dan hukum wad’i serta mempraktekkan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
c. Penutup
1. Menyimpulkan materi pembelajaran.
2. Post test.
3. Pemberian tugas individu yaitu mengerjakan soal-soal latihan Bab 5 dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.





H. Penilaian
a. Prosedur
1. Penilaian proses belajar melalui pengamatan, observasi, tanya jawab, dan tugas.
2. Penilaian hasil belajar melalui tugas individu untuk mengerjakan soal-soal latihan Bab 5 dan ulangan harian Bab 5.
b. Alat penilaian: lembar pengamatan dan soal-soal pilihan ganda dan esay.


Jakarta, 2007


Mengetahui, Guru mata pelajaran
Kepala SMA


(___________) (________________)
NIP: NIP:

Model Rencana Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : SMA kelas X/Semester 1
Materi Pembelajaran : Keteladanan Rasulullah SAW Periode Mekah
Pendekatan : Pengamalan, pembinaan dan pembiasaan, rasional, emosional,
dan fungsional
Metode : Ceramah, diskusi, tanya jawab, dan pemberian tugas
Waktu : 4 jam pelajaran (2x pertemuan)

A. Standar Kompetensi
Memahami keteladanan Rasulullah dalam membina umat periode Mekah.

B. Kompetensi Dasar
6.1. Menceritakan sejarah dakwah Rasulullah SAW periode Mekah.
6.2. Mendeskripsikan substansi dan strategi dakwah Rasulullah SAW periode Mekah.

C. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
6.1.1. Mampu menjelaskan sejarah dakwah Rasulullah SAW periode Mekah.
6.1.2. Mampu menunjukkan profil dakwah Rasulullah SAW pada periode Mekah.
6.1.3. Mampu menjelaskan pengaruh dakwah Rasulullah SAW terhadap umat.
6.2.1. Mampu menjelaskan substansi dakwah Rasulullah SAW periode Mekah.
6.2.2. Menjelaskan strategi dakwah Rasulullah SAW periode Mekah.

D. Uraian Materi Pembelajaran
Materi pokok: Sejarah Dakwah Rasulullah SAW Periode Mekah
Uraian materi pokok:
a. Sejarah Dakwah Rasulullah SAW Periode Mekah
• Masyarakat Arab jahiliah periode Mekah.
• Pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai rasul.
• Ajaran Islam periode Mekah:
o Keesaan Allah SWT
o Hari Kiamat ebagai hari pembalasan
o Kesucian jiwa
o Persaudaraan dan persatuan
b. Strategi dakwah Rasulullah SAW periode Mekah
• Dakwah secara sembunyi-sembunyi selama 3–4 tahun
• Dakwah secara terang-terangan
• Reaksi kaum Quraisy terhadap dakwah Rasulullah SAW.




E. Pengalaman Belajar
 Membaca materi pelajaran Bab 6 (Keteladanan Rasulullah SAW Periode Mekah) dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 6, Penerbit Erlangga.
 Mempelajari tentang sejarah dakwah Rasulullah SAW periode Mekah.
o Masyarakat Arab jahiliah periode Mekah
o Pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai rasul
o Ajaran Islam periode Mekah
 Mendiskusikan dalam kelompok tentang substansi dan dakwah Rasulullah SAW periode Mekah.
o Dakwah secara sembunyi-sembunyi
o Dakwah secara terang-terangan
o Reaksi kaum kafir Quraisy terhadap dakwah Rasulullah SAW

F. Media Pembelajaran
1. Alat: - Al-Qur'an dan terjemahnya
- OHP dan lingkungan sekitar
2. Sumber bahan: Buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 6, Penerbit Erlangga.

G. Skenario Pembelajaran
a. Pendahuluan
1. Tadarus Al-Qur'an (5–10 menit)
2. Apersepsi
3. Informasi tentang indikator pencapaian hasil belajar
b. Kegiatan Inti
1. Membaca, diskusi, dan tanya jawab tentang materi pembelajaran Bab 6 dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.
2. Menjelaskan, tanya jawab, dan diskusi tentang sejarah dakwah Rasulullah SAW periode Mekah.
3. Menjelaskan, tanya jawab, dan diskusi tentang substansi dan strategi dakwah dakwah Rasulullah SAW periode Mekah.
4. Mendiskusikan cotoh-contoh perilaku yang sesuai dengan hukum taklifi dan hukum wad’i serta mempraktekkan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
c. Penutup
1. Menyimpulkan materi pembelajaran
2. Postes
3. Pemberian tugas individu yaitu mengerjakan soal-soal latihan Bab 6 dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.
4. Pemberian tugas agar para siswa/siswi mengerjakan soal-soal latihan Ulangan Akhir Semester I yang terdapat dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.


H. Penilaian
a. Prosedur
1. Penilaian proses belajar melalui pengamatan, observasi, tanya jawab, dan tugas.
2. Penilaian hasil belajar melalui tugas individu untuk mengerjakan soal-soal latihan Bab 6 dan ulangan harian materi Bab 6.
b. Alat penilaian: lembar pengamatan dan soal-soal pilihan ganda dan esay.



Jakarta, 2007

Mengetahui, Guru mata pelajaran
Kepala SMA


(___________) (________________)
NIP: NIP:

























Model Rencana Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : SMA kelas X/Semester 2
Materi Pembelajaran : Pembelajaran Al-Qur'an Surah Ali ‘Imran, 3: 159 san Asy-Syura, 42: 38
Pendekatan : Pengamalan, pembinaan dan pembiasaan, rasional, emosional,
dan fungsional
Metode : Demonstrasi, latihan, tanya jawab, dan pemberian tugas
Waktu : 4 jam pelajaran (2x pertemuan)

A. Standar Kompetensi
Memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang demokrasi.

B. Kompetensi Dasar
7.1. Membaca Q.S. Ali ‘Imran: 159 dan Asy-Syura: 38.
7.2. Menyebutkan arti Q.S. Ali ‘Imran: 159 dan Asy-Syura: 38.
7.3. Menampilkan perilaku hidup demokratis sesuai dengan kandungan Q.S. Ali ‘Imran: 159 dan Asy-Syura: 38.

C. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
7.1.1. Mampu membaca dengan baik dan benar Q.S. Ali ‘Imran: 159 dan Asy-Syura: 38.
7.1.2. Mampu mengidentifikasi tajwid dari ayat-ayat Al-Qur'an tersebut.
7.2.1. Mampu menyebutkan arti dari ayat-ayat Al-Qur'an tersebut secara harfiah (per kata) dan per ayat.
7.2.2. Mampu menyimpulkan kandungan Q.S. Ali ‘Imran: 159 dan Asy-Syura: 38.
7.2.3. Mengidentifikasi ciri-ciri orang yang bersifat demokratis.
7.3.1. Mampu menunjukkan perilaku yang demokratis sesuai dengan Q.S. Ali ‘Imran: 159 dan Asy-Syura: 38.

D. Uraian Materi Pembelajaran
Materi pokok: Al-Qur'an Surah Ali ‘Imran, 3: 159 dan Asy-Syura, 42: 38.
Uraian materi pokok:
a. Surah Ali ‘Imran, 3: 159 tentang musyawarah.
• Bacaan dan penjelasan bacaan (kaidah-kaidah ilmu tajwid).
• Terjemahan Q.S. Ali ‘Imran: 159 secara harfiah (per kata) dan per ayat.
• Menyimpulkan kandungan Q.S. Ali ‘Imran: 159, mengidentifikasi ciri-ciri orang yang bersifat demokratis dan menunjukkan perilaku demokratis.
b. Surah Asy-Syura: 38 tentang anjuran bermusyawarah.
• Bacaan dan penjelasan bacaan (kaidah-kaidah ilmu tajwid).
• Terjemahan Q.S. Asy-Syura: 38 secara harfiah (per kata) dan per ayat.
• Kesimpulan isi atau kandungan Surah Asy-Syura: 38 dan penjelasannya.

E. Pengalaman Belajar
 Membaca dengan fasih Q.S. Ali ‘Imran: 159 dan Asy-Syura: 38.
 Mengidentifikasi tajwid dari ayat-ayat Al-Qur'an tersebut.
 Mengartikan ayat-ayat Al-Qur'an tersebut secara per kata, per ayat, dan menerjemahkannya.
 Mengidentifikasi perilaku demokratis sesuai dengan Q.S. Ali ‘Imran: 159 dan Asy-Syura: 38, serta mempraktekkan dan menunjukkannya.
 Mengerjakan soal-soal latihan Bab 7 dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.
 Mengikuti tes praktek membaca Al-Qur'an dan tes tertulis (ulangan harian).

F. Media Pembelajaran
1. Alat: - Al-Qur'an dan terjemahnya
- OHP dan lingkungan sekitar
2. Sumber bahan: Buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.

G. Skenario Pembelajaran
a. Pendahuluan
1. Tadarus Al-Qur'an (5-10 menit).
2. Apersepsi.
3. Informasi tentang indikator pencapaian hasil belajar.
b. Kegiatan Inti
1. Membaca dengan fasih Q.S. Ali ‘Imran: 159 dan Asy-Syura: 38.
2. Mengidentifikasi tajwid dari ayat-ayat Al-Qur'an tersebut.
3. Menyebutkan arti ayat-ayat Al-Qur’an tersebut secara per kata (harfiah) dan per ayat serta menerjemahkannya.
4. Mengidentifikasi perilaku demokratis sesuai dengan Q.S. Ali ‘Imran: 159 dan Asy-Syura: 38.
5. Mempraktekkan dan menunjukkan perilaku demokratis dalam kehidupan sehari-hari.
c. Penutup
1. Menyimpulkan materi.
2. Post test.
3. Pemberian tugas mengerjakan soal-soal latihan Bab 7 yang terdapat dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.








H. Penilaian
a. Prosedur
1. Penilaian poses belajar melalui pengamatan, observasi, tanya jawab, dan tugas.
2. Penialain hasil tes praktek membaca Al-Qur'an, mengerjakan soal-soal latihan Bab 7 dan mengikuti ulangan harian materi Bab 7.
b. Alat penilaian: tes tertulis dengan bentuk soal pilihan ganda dan esay.

Jakarta, 2007


Mengetahui, Guru mata pelajaran
Kepala SMA

(___________) (________________)
NIP: NIP:

Model Rencana Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : SMA kelas X/Semester 2
Materi Pembelajaran : Iman kepada Malaikat
Pendekatan : Keimanan, pembinaan dan pembiasaan, rasional, emosional,
dan fungsional
Metode : Ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas
Waktu : 4 jam pelajaran (2x pertemuan)

A. Standar Kompetensi
Meningkatkan keimanan kepada malaikat.

B. Kompetensi Dasar
8.1. Menjelaskan tanda-tanda beriman kepada malaikat.
8.2. Menampilkan contoh-contoh perilaku beriman kepada malaikat.
8.3. Menampilkan perilaku sebagai cerminan keimanan kepada malaikat dalam kehidupan sehari-hari.

C. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
8.1.1. Mampu menjelaskan pengertian iman kepada malaikat.
8.1.2. Mampu menjelaskan tanda-tanda beriman kepada malaikat.
8.2.1. Mampu menjelaskan contoh-contoh perilaku beriman kepada malaikat.
8.2.2. Mampu menampilkan contoh-contoh perilaku beriman kepada malaikat.
8.3.1. Mampu menampilkan perilaku mulia sebagai cerminan iman kepada malaikat.
8.3.2. Mampu membedakan antara orang yang beriman kepada malaikat dan orang yang tidak beriman kepada malaikat.

D. Uraian Materi Pembelajaran
Materi pokok: Iman kepada Malaikat.
Uraian materi pokok:
1. Pengertian iman kepada malaikat.
2. Tanda-tanda beriman kepada malaikat.
3. contoh-contoh perilaku beriman kepada malaikat.
4. Penerapan iman kepada malaikat dalam sikap dan perilaku.

E. Pengalaman Belajar
 Membaca buku sumber yang berkaitan dengan materi pelajaran yaitu buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 8, Penerbit Erlangga.
 Diskusi dan tanya jawab mengenai tanda-tanda beriman kepada malaikat.
 Diskusi dan tanya jawab mengenai tanda-tanda beriman kepada malaikat.
 Diskusi dan tanya jawab tentang contoh-contoh/ciri-ciri berima kepada malaikat.
 Diskusi dan tanya jawab mengenai perilaku sebagai cerminan dari keimanan kepada malaikat.
 Diskusi dan tanya jawab tentang perbedaan orang yang beriman dan tidak beriman.
 Mengerjakan soal-soal latihan Bab 8 tentang Iman kpeda Malaikat.
 Mengikuti ulangan harian dari materi pembelajaran Bab 8.

F. Media Pembelajaran
1. Alat: - Al-Qur'an dan terjemahnya
- OHP dan lingkungan sekitar

2. Sumber bahan: Buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.

G. Skenario Pembelajaran
a. Pendahuluan
1. Tadarus Al-Qur'an (5-10 menit).
2. Mengadakan apersepsi dan motivasi belajar.
3. Memberikan soal tes awal.
4. Informasi tentang indikator pencapaian hasil belajar.

b. Kegiatan Inti
1. Membaca, mendiskusikan, dan tanya jawab tentang materi pembelajaran dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.
2. Menjelaskan dan tanya jawab tentang pengertian, hukum, dan alasan hukumnya iman kepada malaikat.
3. Menjelaskan dan tanya jawab tentang tanda-tanda serta contoh-contoh perilaku beriman kepada malaikat untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
4. Mendiskusikan perbedaan perilaku antara orang yang beriman kepada malaikat dan yang tidak.

c. Penutup
1. Menyimpulkan materi pembelajaran.
2. Menyampaikan tes akhir (post test).
3. Pemberian tugas pekerjaan rumah yaitu mengerjakan soal-soal latihan Bab 8 dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.







H. Penilaian
a. Prosedur
1. Penilaian proses belajar melalui pengamatan, observasi, tanya jawab, dan tugas.
2. Penilaian hasil belajar melalui tugas individu untuk mengerjakan soal-soal latihan Bab 8 dan mengikuti ulangan harian materi pembelajaran Bab 8.
b. Alat penilaian: lembar pengamatan dan soal-soal pilihan dandan dan esay.


Jakarta, 2007


Mengetahui, Guru mata pelajaran
Kepala SMA



(___________) (________________)
NIP: NIP:





Model Rencana Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : SMA kelas X/Semester 2
Materi Pembelajaran : Berperilaku Terpuji
Pendekatan : Pembinaan dan pembiasaan, rasional, emosional, dan
fungsional
Metode : Ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas
Waktu : 4 jam pelajaran (2x pertemuan)

A. Standar Kompetensi
Membiasakan perilaku terpuji.

B. Kompetensi Dasar
9.1. Menjelaskan pengertian adab dalam berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu dan atau menerima tamu.
9.2. Menampilkan contoh-contoh adab dalam berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu, dan menerima tamu.
9.3. Mempraktekkan adab dalam berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu atau menerima tamu dalam kehidupan sehari-hari.

C. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
9.1.1. Menjelaskan pengertian adab dalam berpakaian.
9.1.2. Menjelaskan pengertian adab dalam berhias.
9.1.3. Menjelaskan pengertian adab dalam perjalanan.
9.1.4. Menjelaskan pengertian adab dalam bertamu atau menerima tamu.
9.2.1. Mampu menunjukkan contoh adab dalam berpakaian.
9.2.2. Mampu menunjukkan contoh adab dalam berhias.
9.2.3. Mampu menunjukkan contoh adab dalam perjalanan.
9.2.4. Mampu menunjukkan contoh adab dalam bertamu dan menerima tamu.
9.3.1. Mampu mempraktekkan perilaku yang baik dan benar dalam berpakaian.
9.3.2. Mampu mempraktekkan perilaku yang baik dan benar dalam berhias.
9.3.3. Mampu mempraktekkan adab perilaku yang baik dan benar dalam perjalanan.
9.3.4. Mampu mempraktekkan perilaku yang baik dan benar dalam bertamu dan menerima tamu.

D. Uraian Materi Pembelajaran
Materi pokok: Berperilaku Terpuji
Uraian materi pokok:
1. Adab berpakaian dan berhias.
2. Adab dalam perjalanan.
• Tata krama di jalan raya.
• Tata krama bagi penumpang kendaraan umum.
3. Adab bertamu dan menerima tamu.
• Bertamu
• Menerima tamu

E. Pengalaman Belajar
 Membaca buku sumber yang berkaitan dengan materi pelajaran yaitu buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 9, Penerbit Erlangga.
 Menjelaskan pengertian adab dalam berpakaian dan berhias, adab dalam perjalanan, dan adab dalam bertamu dan menerima tamu.
 Menampilkan contoh adab dalam berpakaian dan berhias, adab dalam perjalanan, dan adab dalam bertamu dan menerima tamu.
 Mempraktekkan adab dalam berpakaian dan berhias, adab dalam perjalanan, dan adab dalam bertamu dan menerima tamu.
 Mengerjakan soal-soal latihan Bab 9 tetang berperilaku terpuji dari buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.
 Mengikuti ulangan harian Bab 9.

F. Media Pembelajaran
1. Alat: - Al-Qur'an dan terjemahnya
- OHP dan lingkungan sekitar
2. Sumber bahan: Buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 9, Penerbit Erlangga.

G. Skenario Pembelajaran
a. Pendahuluan
1. Tadarus Al-Qur'an (5-10 menit).
2. Mengadakan apersepsi dan motivasi belajar.
3. Memberikan soal tes awal (pretes).
4. Informasi tentang indikator pencapaian hasil belajar
b. Kegiatan Inti
1. Membaca materi pembelajaran (Bab 9 Berperilaku Terpuji) dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.
2. Menjelaskan dan tanya jawab tentang pengertian adab dalam berpakaian dan berhias, adab dalam perjalanan, dan adab dalam bertamu serta menerima tamu.
3. Menjelaskan dan tanya jawab tentang contoh-contoh sikap perilaku yang baik dan benar dalam berpakaian dan berhias, adab dalam perjalanan, dan adab dalam bertamu serta menerima tamu, untuk kemudian dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
c. Penutup
1. Menyimpulkan materi pembelajaran.
2. Menyampaikan tes akhir.
3. Pemberian tugas mengerjalan soal-soal latihan Bab 9.

H. Penilaian
a. Prosedur
1. Penilaian poses belajar melalui pengamatan, observasi, tanya jawab, dan tugas.
2. Penilaian hasil belajar melalui tugas individu untuk mengerjakan soal-soal latihan Bab 9 dan ulangan harian Bab 9.
b. Alat penilaian: lembar pengamatan dan soal-soal pilihan ganda dan esay.


Jakarta, 2007


Mengetahui, Guru mata pelajaran
Kepala SMA


(___________) (________________)
NIP: NIP:

























Model Rencana Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : SMA kelas X/Semester 2
Materi Pembelajaran : Berperilaku Tercela
Pendekatan : Pembinaan dan pembiasaan, rasional, emosional, dan
fungsional
Metode : Ceramah, tanya jawab, diskusi, dan pemberian tugas
Waktu : 4 jam pelajaran (2x pertemuan)

A. Standar Kompetensi
Menghindari perilaku tercela.

B. Kompetensi Dasar
10.1. Menjelaskan pengertian hasad, riya’, aniaya, dan diskriminasi.
10.2. Menyebutkan contoh perilaku hasad, riya’, aniaya, dan diskriminasi.
10.3. Menghindari perilaku hasad, riya’, aniaya, dan diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari.

C. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
10.1.1. Mampu menjelaskan pegertian hasad.
10.1.2. Mampu menjelaskan pengertian riya’.
10.1.3. Mampu menjelaskan pengertian aniaya.
10.2.1. Mampu menyebutkan cotoh perilaku hasad.
10.2.2. Mampu menyebutkan contoh perilaku riya’.
10.2.3. Mampu menyebutkan contoh perilaku aniaya dan diskriminasi.
10.3.1. Mampu menghindari perilaku hasad.
10.3.2. Mampu menghindari perilaku riya’.
10.3.3. Mampu menghindari perilaku aniaya.
10.3.4. Mampu menghindari perilaku diskriminasi.

D. Uraian Materi Pembelajaran
Materi pokok: Berperilaku Tercela
Uraian materi pokok:
1. Hasud
• Pengertian hasud, hukum dan alasan hukumnya.
• Kerugian/bahaya hasud.
2. Riya’
• Pengertian riya’, hukum dan alasan hukumnya.
• Macam-macam riya’ dan akibat buruknya.
3. Aniaya
• Pengertian aniaya, hukum dan alasan hukumnya.
• Macam-macam aniaya dan akibat buruknya.

4. Diskriminasi
• Pengertian diskriminasi, hukum dan alasan hukumnya.
• Macam-macam diskriminasi dan akibat buruknya.

E. Pengalaman Belajar
 Membaca buku sumber yang berkaitan dengan materi pelajaran yaitu buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 10, Penerbit Erlangga.
 Menjelaskan pengertian hasad, riya’, aniaya, dan diskriminasi.
 Menyebutkan contoh-contoh perilaku hasad, riya’, aniaya, dan diskriminasi.
 Menghindari perilaku hasad, riya’, aniaya, dan diskriminasi.
 Mengerjakan soal-soal latihan Bab 10 (Perilaku Tercela).
 Mengikuti ulangan harian materi pembelajaran Bab 10.

F. Media Pembelajaran
1. Alat: - Al-Qur'an dan terjemahnya
- OHP dan lingkungan sekitar
2. Sumber bahan: Buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.

G. Skenario Pembelajaran
a. Pendahuluan
1. Tadarus Al-Qur'an (5-10 menit).
2. Mengadakan apersepsi dan motivasi belajar.
3. Memberikan soal tes awal (pretes).
4. Informasi tentang indikator pencapaian hasil belajar.
b. Kegiatan Inti
1. Membaca materi pembelajaran (Bab 10 Berperilaku Tercela) dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.
2. Diskusi dan tanya jawab tentang pengertian hasad, riya’, aniaya, dan diskriminasi.
3. Diskusi dan tanya jawab tentang contoh-contoh perilaku hasad, riya’ aniaya, dan diskriminasi.
4. Diskusi dan tanya jawab tentang cara-cara menghadapi perilaku hasad, riya’, aniaya, dan diskriminasi.
c. Penutup
1. Menyimpulkan materi pembelajaran.
2. Menyampaikan tes akhir (postes).
3. Pemberian tugas mengerjakan soal-soal latihan Bab 10.






H. Penilaian
a. Prosedur
1. Penilaian poses belajar melalui pengamatan, observasi, tanya jawab, dan tugas.
2. Penilaian hasil belajar melalui tugas individu untuk mengerjakan soal-soal latihan Bab 10 dan ulangan harian Bab 10.
b. Alat penilaian: lembar pengamatan dan soal-soal pilihan ganda dan esay.

Jakarta, 2007

Mengetahui, Guru mata pelajaran
Kepala SMA

(___________) (________________)
NIP: NIP:

Model Rencana Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : SMA kelas X/Semester 2
Materi Pembelajaran : Zakat, Haji, dan Wakaf
Pendekatan : Ibadah, pembinaan dan pembiasaan, rasional, emosional, dan
fungsional
Metode : Ceramah, tanya jawab, diskusi, dan pemberian tugas
Waktu : 6 jam pelajaran (3x pertemuan)

A. Standar Kompetensi
Memahami hukum Islam tentang zakat, haji, dan wakaf.

B. Kompetensi Dasar
11.1. Menjelaskan perundang-undangan tentang pengelolaan zakat, haji, dan wakaf.
11.2. Menyebutkan contoh-contoh pengelolaan zakat, haji, dan wakaf.
11.3. Menerapkan ketentuan perundang-undangan tentang pengelolaan zakat.

C. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
11.1.1. Mampu menjelaskan perundang-undangan tentang pengelolaan zakat.
11.1.2. Mampu menjelaskan perundang-undangan tentang pengelolaan haji.
11.1.3. Mampu menjelaskan perundang-undangan tentang pengelolaan wakaf.
11.2.1. Mampu menyebutkan contoh pengelolaan zakat.
11.2.2. Mampu menyebutkan contoh pengelolaan haji.
11.2.3. Mampu menyebutkan contoh pengelolaan wakaf.
11.3.1. Mampu menerapkan ketentuan perundang-undangan tentang zakat.
11.3.2. Mampu menerapkan ketentuan perundang-undangan tentang haji.
11.3.3. Mampu menerapkan ketentuan perundang-undangan tentang wakaf.

D. Uraian Materi Pembelajaran
Materi pokok: Zakat, Haji, dan Wakaf
Uraian materi pokok:
a. Zakat
• Ketentuan hukum Islam tentang zakat.
• Pengelolaan zakat di Indonesia, mengacu kepada perundang-undangan tentang zakat.
b. Haji
• Ketentuan hukum Islam tentang haji.
• Penyelenggaraan haji di Indonesia mengacu kepada perundang-undangan tentang haji.



c. Wakaf
• Ketentuan hukum tentang wakaf.
• Pelaksanaan wakaf di Indonesia mengacu kepada perundang-undangan tentang wakaf.


E. Pengalaman Belajar
 Membaca buku sumber yang berkaitan dengan materi pelajaran yaitu buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 11, Penerbit Erlangga.
 Diskusi dan tanya jawab tentang ketentuan hukum Islam mengenai zakat, haji, dan wakaf.
 Diskusi dan tanya jawab tentang perundang-undangan di Indonesia menegnai zakat, haji, dan wakaf.
 Diskusi dan tanya jawab mengenai praktek pelaksanaan zakat, haji, dan wakaf di Indonesia.
 Mengerjakan soal-soal latihan bab 11 mengenai zakat, haji, dan wakaf.

F. Media Pembelajaran
1. Alat: - Al-Qur'an dan terjemahnya
- OHP dan lingkungan sekitar
2. Sumber bahan: Buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 11, Penerbit Erlangga.

G. Skenario Pembelajaran
a. Pendahuluan
1. Tadarus Al-Qur'an (5-10 menit).
2. Mengadakan apersepsi dan motivasi belajar.
3. Memberikan soal tes awal (pretes).
4. Informasi indikator pencapaian hasil belajar.
b. Kegiatan Inti
1. Membaca materi pembelajaran (Bab 11 Zakat, Haji, dan Wakaf) alam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.
2. Diskusi dan tanya jawab tentang ketentuan hukum Islam mengenai zakat, haji, dan wakaf.
3. Diskusi dan tanya jawab tentang perundang-undangan zakat, haji, dan wakaf di Indonesia.
4. Diskusi dan tanya jawab mengenai praktek pelaksanaan zakat, haji, dan wakaf.
c. Penutup
1. Menyimpulkan materi pembelajaran.
2. Memberikan tes akhir.
3. Pemberian tugas mengerjakan soal-soal latihan Bab 11.


H. Penilaian
a. Prosedur
1. Penilaian poses belajar melalui pengamatan, observasi, tanya jawab, dan tugas.
2. Penilaian hasil belajar melalui tugas individu untuk mengerjakan soal-soal latihan Bab 11 dan mengikuti ulangan harian Bab 11.
b. Alat penilaian: lembar pengamatan dan soal-soal pilihan ganda dan esay.



Jakarta, 2007


Mengetahui, Guru mata pelajaran
Kepala SMA

(___________) (________________)
NIP: NIP:


























Model Rencana Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : SMA kelas X/Semester 2
Materi Pembelajaran : Keteladanan Rasulullah SAW Periode Madinah
Pendekatan : Peradaban, rasional, emosional, dan fungsional
Metode : Ceramah, diskusi, tanya jawab, dan pemberian tugas
Waktu : 4 jam pelajaran (2x pertemuan)

A. Standar Kompetensi
Memahami keteladanan Rasulullah SAW dalam membina umat periode Madinah.

B. Kompetensi Dasar
12.1. Menceritakan sejarah dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.
12.2. Mendiskripsikan strategi dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.

C. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
12.1.1. Mampu menjelaskan sejarah dakwah periode Madinah.
12.1.2. Mampu menunjukkan profil dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.
12.2.1. Mampu menjelaskan strategi dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.
12.2.2. Mampu meneladani strategi dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.

D. Uraian Materi Pembelajaran
Materi pokok: Keteladanan Rasulullah SAW Periode Madinah.
Uraian materi pokok:
a. Sejarah dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.
• Arti sejarah dan tujuan Rasulullah SAW berhijrah.
• Dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.
• Dakwah Rasulullah SAW keluar Jazirah Arabia.
b. Strategi dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.
• Pokok-pokok pikiran yang dijadikan strategi dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.
• Membangun masjid.
• Mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Ansar.
• Perjanjian untuk saling membantu antara umat Islam dan umat non Islam.

E. Pengalaman Belajar
 Membaca materi pembelajaran Bab 12 (Keteladanan Rasulullah SAW Periode Madinah) dlam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.
 Mempelajari dan mendiskusikan tentang sejarah dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.
 Mempelajari dan mendiskusikan tentang strategi dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.
 Meneladani strategi dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.


F. Media Pembelajaran
1. Alat: - Al-Qur'an dan terjemahnya
- Peta Jazirah Arab
- OHP dan lingkungan sekitar

2. Sumber bahan: buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 12, Penerbit Erlangga.

G. Skenario Pembelajaran
a. Pendahuluan
1. Tadarus Al-Qur'an (5-10 menit).
2. Apersepsi dan motivasi belajar.
3. Menyampaikan tes awal (pre test).
4. Informasi tentang indikator pencapaian hasil belajar.

b. Kegiatan Inti
1. Membaca tentang materi pembelajaran Bab 12 dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.
2. Menjelaskan, tanya jawab, dan diskusi tentang sejarah dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.
3. Menjelaskan, tanya jawab, dan diskusi tentang strategi dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.

c. Penutup
1. Menyimpulkan materi pembelajaran.
2. Menyampaikan tes akhir (post test).
3. Pemberian tugas individu untuk mengerjakan soal-soal latihan Bab 12.
4. pemberian tugas untuk mengerjakan soal-soal latihan ulangan akhir semester 2 dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.









H. Penilaian
a. Prosedur
1. Penilaian poses belajar melalui pengamatan, observasi, tanya jawab, dan tugas.
2. Penilaian hasil belajar melalui tugas individu untuk mengerjakan soal-soal latihan Bab 12 dan mengikuti ulangan harian Bab 12.
b. Alat penilaian: lembar pengamatan dan soal-soal pilihan ganda dan esay.


Jakarta, 2007
Mengetahui, Guru mata pelajaran
Kepala SMA

(___________) (________________)
NIP: NIP:

Pemprop Sumsel Rencanakan Bangun Asrama di Kairo Mesir Indralaya, Palembang Pos

Pemerintah Propinsi (Pemprop) Sumatera Selatan akan merencanakan membangun Asrama di Kairo Mesir mengingat banyaknya mahasiswa Sumatera Selatan yang menimbah ilmu pengetahuan di Negara Timur Tengah, demikian antara lain dikatakan Gubernur Sumatera Selatan Ir.H.Alex Noerdin,SH pada Milad dan Ulang Tahun ke 59 Pondok Pesantren Raudhatul Ulum (PPRU) Sakatiga Kamis (25/6) kemarin.
Kendati Gubernur akan merencanakan pembangunan Asrama Di Kairo Mesir tersebut tentu saja rencana pembangunan asrama harus dibicarakan secara matang dengan pihak terkait, setidaknya akan dilakukan survei terlebih dahulu, hingga terealisasinya pembangunan asrama tersebut. " Rencana pembangunan asrama di Kairo Mesir yang diperuntukkan bagi Mahasiswa yang sedang belajar di Kairo Mesir tentu saja harus dibicarakan terlebih dahulu dengan pihak terkait, misalnya DPRD Sumsel dan melakukan survei lapangan, hingga terealisasinya pembangunan asrama tersebut " Ujar Alex Noerdin kepada wartawan usai acara di PPRU.
Gubernur dalam sambutannya juga mengharapkan kepada PPRU bisa berpartisipasi dalam pembangunan pendidikan di Kabupaten Ogan Ilir (OI) Khususnya dan di Sumatera Selatan secara umum, terlebih untuk mencerdaskan ummat, terlebih lagi juga dharapkan agar terus meningkatkan program yang ada, mencetak SDM yang handal.
Pada kesempatan yang sama Bupati OI Ir.H.Mawardi Yahya dalam sambutannya antara lain mengharapkan semoga PPRU dapat terus meningkatkan kualitas pendidikan secara berkesinambungan, sehingga dapat mendukung upaya peningkatan kualitas SDM, sekaligus sebagai upaya mengantisipasi dampak negatif era globalisasi, serta budaya asing.
Kesempatan tersebut juga Bupati mengatakan pihak pemkab OI siap membantu pasilitas pendidikan di kabupaten OI termasuk PPRU, terutama fasilitas pendidikan.Pada tahun 2009 Kabupaten OI dari hasil Ujian Nasional mendapat Ranking ke II untuk tingkat ppropinsi Sumsel, karena untuk jurusan IPA, OI mendapat rangking Pertama sedangkan dari jurusan IPS menjadapat rangking ke empat.
Lebih jauh dikatakan Bupati, tidak lama lagi di Kabupaten OI akan didirikani Rumah Sakit, tentu saja alokasi dananya didapat dari APBD Propinsi Sumsel dan APBD Kabupaten OI, hal ini tidak akan terwujud tanpa adanya partisipasi dari masyarakat Kabupaten khususnya.
Sebelumnya KH. Abdul Karim Umar selaku Mudir PPRU dalam sambutanya antara lain mengatakan pada acara Milad dan Haflah ke 59 PPRU ini tak lain merupakan sarana silaturrahmi PPRU , tokoh masyarakat dan alim ulama di Kabupaten OI khususnya dan di Sumatera Selatan secara umum. Acara dilanjutkan dengan penyerahan piagam penghargaan kepada santri yang berprestasi oleh Gubernur Sumatera Selatan dan Bupati OI. Acara Milad dan Ulang tahun PPRU ke 59 juga dihadiri unsur muspida Propinsi Sumatera Selatan, Depag Sumsel, unsur muspida OI, para orang tua wali santri PPRU dan undangan lainnya.(din)

MATERI PAI

Tugas Ini Disusun Sebagai Tugas Semesteran Pada Mata Kuliah
Materi Pendidikan Agama Islam

Disusun oleh:

Syawaluddin (0829012)


Dosen pembimbing:
Drs. Yusuf Hamiri, M.pd.I



FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN FATAH
PALEMBANG
2009
1. Dalam persiapan menjelang pernikahan ada proses khitbah dan Nadzor. Apa yang dimaksud dengan dua istilah tersebut, jelaskan jawaban anda !
Jawaban !
Khitbah adalah yang dimaksud dengan Khitbah atau meminang atau melamar ialah untuk menyatakan permintaan atau ajakan menikah dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan atau sebaliknya dengan cara yang baik. Sedangkan hokum meminang adalah boleh (mubah) dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
a. Perempuan yang akan dipinang harus memenuhi syarat sebagai berikut:
1) Tidak terikat oleh akad pernikahan
2) Tidak berada dalam masa iddah talak raj’i
3) Bukan pinangan laki-laki lain
Rasulullah saw. Bersabda:
Artinya:
“seorang mukmin adalah saudaramukmin lainya. Oleh karena itu, ia tidak boleh membeli atau menawar sesuatuyang sudah dibeli/ditawar saudaranya, dan ia tidak boleh meminang seseorang yang sudah dipinang saudaranya, kecuali ia telah dilepaskannya.”(Mutafaq’alaih)
b. cara mengajukan pinangan
1) Pinangan kepada gadis atau janda yang sudah habis masa idadahnya boleh dinyatakan secara terang-terangan.
2) Pinangan kepada janda yang masih dalam thalaq bain atau iddah ditinggal wafat oleh suaminya, tidak boleh dinyatakan secara terang-terangan. Pinangan kepada mereka hanya boleh dlakukan secara sindiran saja.
Allah swt befirman:
             
Artinya:
Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu[148] dengan sindiran[149] atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu…( QS. AL-Baqarah: 235)

Nadzor adalah melihat wanita yang akan dinikahi, dianjurkan bahkan disunahkan
Agama. Melihat calon istri untuk mengetahui penampilan dan kecantikannya, dipandang perlu untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang bahagia dan sekaligus menghindari penyesalan setelah menikah.
Rasulullah bersabdah:
Artinya:
“Jika seseorang diantara kamu meminang seseorang perempuan, sekiranya dapat melihat sesuatu yang mendorong semangat mengawininya, maka hendaklah ia melakukannya.”(HR. Ahmad dan Abu Daud)
Rasulullah bersabdah :
Artinya :
“Apabila seorang diantara kamu meminang seorang perepuan. Maka tidak berhalangnya atasnya untuk melihat perempuan itu asal saja dengan sengaja, semata-mata untuk perjodohan, baik di ketahui perempuan itu atau tidak.”(HR. Ahmad)

2. Apakah sama pengertian Nadzor dengan Pacaran yang selama ini kita kenal. Jelaskan!
Jawaban !
Tidak. Nadzor ialah melihat untuk mencari perjodohan, dilaksanakan ketika atau setelah khitbah agar bertambah keinginan untuk menikahi perempuan itu.
Pacaran ialah bebas tanpa ikatan, melihat tanpa aturan dan menjurus pada perbuatan zina. Zina mata, ziha hati, zina perbuatan dll.

3. Bagaimana status pernikahan antara perempuan muslimah dengan laki-laki non muslim!
Jawaban !
Bahwa sanya orang islam, baik laki-laki maupun perempuan, tidak boleh mengadakan ikatan perkawinan dengan orang-orang non muslim yang tidak beriman kepada Allah swt.


Allah memberikan kesaksian tentang hal ini:
                               •     •      ••   
Artinya:
Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (Al-Baqoroh 221)
Jadi perkawinan yang dilakukan dengan orang tidak beriman kepada Allah swt dengan jelas dikatakan haram.
Ada sebagian ulama membolehkan pernikahan antar agama dengan syarat-syarat tertentu. Misalnya diatara suami atau istri setelah nikah siap menjadi seorang muslim.

4. Untuk mengantisipasi perceraian antara suami istri. Kiat-kiat apa yang harus dilakukan.
Jawaban !
a. Jadikan Allah sebagai tujuan.
b. Jadikan Agama sebagai landaan
c. Jadikan Rosulullah sebagai panutan.
d. Ciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah.
e. Harus terbuka antara suami dan istri
f. Saling percaya satu sama lain, Saling memenuhi hak dan kewajiban masing-masing.
g. Saling memberikan nasihat dan pengarahan.
h. Saling memperhatikan satu sama lain.

5. Akhir-akhir ini sering terjadi perselingkuhan suami/istri. Apa penyebabnya dan bagaimana cara penanggulanginya, jelaskan !
Jawaban !
Penyebabnya :
a. Maing-masing sibuk dengan pekerjaanya, banyak di luar rumah.
b. Waktu dan perhatian untuk pasangan kurang.
c. Merasa tertekan dalam keluarga.
d. Tidak mendapatkan kebahgian dalam rumah tangga.
e. Ketidakharmonisan dalam rumah tangga.
f. Ketidakpuasan istri atau suami.
g. Adanya Pria Idaman Lain (PIL) dan Wanita Idaman Lain (WIL).

Penanggulangan :
a. Masing-masing menyadari tujuan dan hikmah nikah.
b. Curahkan perhatian yang penuh untuk pasangan.
c. Berikan pelayanan yang baik untuk pasangan.
d. Ciptakan rumah tangga yang harmonis.
e. Bahagiakan pasangan
f. Saling percaya aantara satu sama lain.
g. Suami istri harus terbuka.
h. Saling memberikan kasih sayang.
i. Jangan memulai perselingkuhan.

6. Kiat-kiat apa yang dilakukan agar tercipta keluarga bahagia; sakinah, mawaddah, dan warohmah.

Jawaban !
Dalam menempuh kehidupan rumah tangga, banyak sekali tantangan dan cobaan akan tetapi untuk menciptakan agar tercipta keluarga sakinah, mawaddah, dan warohmah kiat-kiat yang harus dilakukan, sebagai berikut:
1. meluruskan niat/motivasi
Motivasi menikah bukanlah semata untuk memuaskan kebutuhan biologis/fisik, dan juga menikah merupakan salah satu tanda kebesaran Allah SWT sebagaimana diungkapkan dalam firmannya; QS. Ar-Rum:21
            ••   •      
Artinya;
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Kemudian menikah bernilai ibadah dan merupakan sunnah rosul dalam kehidupan sebagaimana dijelaskan dalam salah satu hadist:
“Barangsiapa yang dimudahkan baginya untuk menikah, lalu ia tidak menikah maka tidaklah ia termasuk golonganku”(HR. At-Thabrani dan Al-Baihaqi). Oleh karena nikah merupakan sunnah rosul, maka selayaknya proses menuju pernikahan, tata cara pernikahan dan bahkan kehidupan pasca pernikahan harus mencontoh Rasul.
2. Sikap saling terbuka
Secara fisik suami istri telah dihalalkan oleh Allah SWT untuk saling terbuka saat jima’ (bersenggama), padahal sebelum menikah hal itu adalah diharamkan. Maka hakikat keterbukaan itu pun harus diwujudkan dalam interaksi kejiwaan, pemikiran, sikap, dan tingkah laku, sehingga masing-masing dapat secarah utuh mengenal hakikat kepribadian suami/istrinya dan dapat memupuk sikap saling percaya di antara keduanya.
3. Sikap toleran
Dua insan yang berbeda latar belakang social, budaya, pendidikan, dan pengalaman hidup bersatu dalam pernikahan, tentunya akan menimbulkan terjadinya perbedaan-perbedaan dalam cara berpikir, memandang suatu permasalah, cara bersikap/bertindak, juga selera. Potensi perbedaan tersebut apabilah tidak disikapi dengan sikap toleran dapat menjadi sumberkomlik/perdebatan. Oleh karena itu masing-masing suami/istri harus mengenali dan menyadari kelemahan dan kelebihan pasangannya, kemudian berusaha untukmemperbaiki kelemahan yang ada dan memupuk kelebihanya.
4. Komunikasi
Tersumbatnya saluran komunikasi suami istri atau orang tua anak dalam kehidupan rumah tangga akan menjadi awal kehidupan rumah tangga yang tidak harmonis. Komunokasi sangat penting, disamping akan meningkatkan jalinan cinta kasih juga menghindari terjadi kesalafahaman.
5. Sabar dan Syukur
Allah SWT mengingatkan kita dalam AL-Qur’an surat At Taghabun: 14
                   

Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara Isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu[1479] Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
6. Sikap yang santun dan bijak
Merawat cinta kasih dalm keluarga ibarat seperti merawat tanaman, maka pernikahan dan cinta kasih harus juga dirawat agar tumbuh subur dan indah, diantranya dengan mu’asysrah bil ma’ruf. Rasulullah menyatakan bahwa:
“Sebaik-baik orang diantara kamu adalah orang yang paling baik terhadap istrinya, dan aku (rasulullah ) adalah orang yang paling baik terhadap istriku.” (HR. Thabrani dan Tirmizi)
Sikap yang santun dan bijak dari seluruh anggota keluarga dalam interaksi kehidupan berumah tangga akan menciptakan suasana yang nyaman dan indah. Suasana yang demikian sangat penting untuk perkembangan dan pengkondisian suasana untuk betah tinggal dirumah.
7. Kuat hubungan dengan Allah
Hubungan yang kuat dengan Allah dapat menghasilkan keteguhan hati, sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam QS. Ar-Ra’du: 28
            
Artinya:
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
7. Jelaskan dampak negative perceraian suami istri (cerai hidup) terhadap kebahagiaan keluarga.
Jawaban !
Dalam pandangan agama Islam, perceraian adalah suatu yang dihalalkan tetapi dibenci oleh Allah, atau dengan kata lain sebagai pintu darurat. Hal ini dapat dipahami karena besarnya dampak perceraian yang tidak hanya menimpa suami/istri, tetapi juga anak-anak. Anak-anaklah yang sangat merasakan pahitnya akibat perceraian kedua orang tuanya. Perkembangan psikologi anak-anak yang tidak sehat, sering kali berunjung dengan narkona.
Kurangnya perhatian orang tua tentu akan mempengaruhi perkembangan jiwa anak. Merasa kasih sayang orang tua yang didapatkan tidak utuh, hanya ibu saja atau bapak saja, anak itu akan mencari perhatian dari orang lain atau bahkan ada yang merasa malu, minder, dan tertekan. Anak-anak tersebut umumnya mencari perhatian dan tidak jarang yang akhirnya terjerat dengan pergaulan bebas.
Putusnya hubungan antara dua keluarga besar baik dari pihak laki-laki maupun suami, dan kebahagian antara keluarga akan hilang.

8. Banyak kasus perebutan anak setelah suami istri bercerai. Padahal anak itu milik mereka berdua, dan terhadap anak tidak ada istilah cerai. Bagaimana tanggapan anda terhadap kasus ini.
Jawaban !
Bagi anak tidak ada istilah cerai, Setuju ! walaupun orang tua bercerai, sebaiknya anak jangan ikut cerai. Seharusnya anak masih mendapatkan perhatian dan kaih sayang dari keduanya. Dan sebaiknya anak tetap di suruh berbuat baik dan hormat kepada keduaya dan jangan anak di jadikan korban, karena anak darah daging suami istri,
Dan apabilah Kurangnya perhatian orang tua tentu akan mempengaruhi perkembangan jiwa anak. Merasa kasih sayang orang tua yang didapatkan tidak utuh, hanya ibu saja atau bapak saja, anak itu akan mencari perhatian dari orang lain atau bahkan ada yang merasa malu, minder, dan tertekan. Anak-anak tersebut umumnya mencari perhatian dan tidak jarang yang akhirnya terjerat dengan pergaulan bebas

9. Mungkin anda mendengar banyak kasus perceraian dikalangan selebritis, padahal mereka cantik dan ganteng, harta lebih dari cukup, tapi sedikit diantara pasangan artis yang dapat mempertahankan kelangsungan keluarganya. Menurut pendapat anda apa penyebabnya.
Jawaban !
a. Karena bebas pergaulan dan tidak ada batas.
b. Kurang memahami perasaan pasangan.
c. Menyakiti hati pasangan karena dekat dengan orang lain.
d. Sama-sama sibuk dengan pekerjaan.
e. Kurang peratian satu sama lain.
f. Tidak memahmi sunnah Nabi.
g. Jauh dari Allah.

10. Jelaskan perbedaan cara rujuk terhadap istri yang masih dalam iddahdan terhadap istri yang sudah habis masa iddah nya.

Jawaban !
Rujuk terhadap istri dalam masa iddah boleh.
Rujuk terhadap istri yang sudah habis masa iddahnya. Keduanya harus menikah dulu, kemudian bercerai baru rujuk dengan istri yang pertama tadi.

11. Apa yang dimaksud dengan furudh al muqaddarah, dan sebutkan enam macam furudh al muqaddarah yang disebutkan didalam Al-Qur’an.
Furudh artinya bagian dan Muqaddarah artinya ditentukan. Jadi furudh al muqaddarah artinya ahli waris yang bagian-bagian besarnya telah ditentukan da dalam AL-QUR’AN.
Furudh al muqaddarah ada enam macam:
a. 2/3 (dua pertiga)
b. ½ (setengah)
c. 1/3 (sepertiga)
d. ¼ (seperempat)
e. 1/6 (seperenam)
f. 1/8 (seperdelapan)

a. Firman Allah dalam surah An-Nisa ayat 7 :
             •      • 
Artinya : “Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang Telah ditetapkan.”



b. Firman Allah dalam surah An-Nisa ayat 11 :
                              •                       •                       •     
Artinya : “Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan, dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.




Firman Allah surah An-Nisa ayat 12 .
                                                                      •                             
Artinya : “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika Isteri-isterimu itu mempunyai anak, Maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. jika kamu mempunyai anak, Maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), Maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. tetapi jika Saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.”

c. Firman Allah dalam surah An-Nisa ayat 176 :

                                                        
Artinya : “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: "Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, Maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, Maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) Saudara-saudara laki dan perempuan, Maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
12. Dalam pembagian waris dikenal dengan hijab nuqshan dan hijab hirman. Jelaskan.
Hijab artinya penutup atau penghalang. Maksudnya adalah penutup atau penghalang ahli waris yang semestinya mendapat bagian menjadi tidak mendapat bagian atau tetap menerima warisan, tapi jumlanya berkurang karena ada ahli waris yang lebih dekat peratlian kerabatannya.
Hijab Nuqshan, yaitu penghalang yang dapat mengurangi bagian yang seharusnya diterima oleh ahli waris. Misalnya istri bisa mendapat ¼ warisan, karena ada anak ia mendapatkan 1/8.
Hijab Hirman yaitu penghalang yang menyebabkan ahli waris tidak mendapatkan warisan sama sekali karena ada ahli waris yang lebih ddekat pertalian kerabatannya.

13. Dalam pembagian waris terdapat beberapa cara antara lain dengan cara al Aul, Ar Raad, Gharawain, Musyarokah, dan Akdariah. Jelaskan apa yang dimaksud dengan cara tersebut.
Al-Aul artinya bertambah. Dalm ilmu faraidh aul diartikan bagian-bagian yang harus diterima oleh ahli waris lebih banyak daripada asal masalnya, sehingga asal masalanya harus ditambah atau di ubah.
Ar-Radd yaitu: “mengembalikan”. Menurut istilah faraidh adalah: “membagi sisa harta warisan kepada ahli waris menurut pembagian masing-masing, setelah masing-masing menerima bagianya.”
Ar-Radd ini dilakukan karena setelah harta diperhitungkan untuk ahli waris, ternyata masih ada sisa harta. Sedangkan ahli waris tidak ada ‘ashabah. Maka sisa harta tersebut dibagikan kepada ahli waris yang ada, kecuali suami/istri.
Gharawain artinya dua yang terang, yaitu dua masalah yang terang cara penyelesaiannya. Dua masalah tersebut adalah:
Pertama, pembagian warisan jika ahli warisnya; suami, ibu dan bapak.
Kedua, pembagioan warisan jika ahli warisnya; istri, ibu dan bapak.
Musyarokah atau Musyarikah artinya yang diserikatkan. Yaitu jika ahli waris yang dalam penghitungan mawaris semestinya memperoleh warisan, tetapi tidak memperolehnya, maka disyariatkan kepada ahli waris lain yang memperoleh bagian.
Akdariah artinya mengeruhkan atau menyusahkan, yaitu kakek menyusahkan saudara perempuan dalam pembagian warisan. Masalah terjadi ketika adaorang yang meninggal dengan meninggalkan ahli waris yang terdiri dari: suami, ibu, saudara perempuankandung/sebapakdan kakek.


14. Pembagian harta waris dengan Aul. Dimana ahli waris terdiri dari: istri, ayah, ibu dan dua anak perempuan. Harta peninggalan sebesar Rp. 81.000,- berapa bagian masing-masing dari ahli waris tersebut.
Jawaban !
Istri : 1/8
Ibu : 1/6
Bapak : 1/6
Dua orang
anak perempuan. : 2/3
K.P.K = 24
Istri : 1/8 X 24 = 3
Bapak : 1/6 X 24 = 4
Ibu : 1/6 X 24 = 4
Dua orang
anak perempuan : 2/3 X 24 =16
Jumlah = 27

Dari dua puluh empat di Aul kan menjadi dua puluh tujuh.
Istri : 3/27 X Rp. 81.000,. =Rp. 9000,.
Ibu : 4/27 X Rp. 81.000,. = Rp. 12.000,.
Bapak : 4/27 X Rp. 81.000,. = Rp. 12.000,.
Dua orang anak
perempuan : 16/27 X Rp.81.000,. = Rp. 48.000,.
Jumlah = Rp. 81.000,.

Masing-masing anak
Perempuan : ½ X Rp. 48.000,. = Rp. 24.000,.

15. ahli waris terdiri dari: istri, ibu, dua saudara perempuan kandung dan seorang saudara seibu. Harta peninggalan Rp. 45.000.000,- berapa bagian masing-masing ahli waris.

Jawaban !
Istri : 1/4
Ibu : 1/6
Dua orang saudara
perempuan kandung : 2/3
seorang saudara seibu : 1/6
K.P.K = 12
Istri : 1/4 X 12 = 3
Ibu : 1/6 X 12 = 2
Dua orang saudara
perempuan kandung : 2/3 X 12 = 8
seorang saudara seibu : 1/6 X 12 = 2
Jumlah = 15
Dari dua belas di-‘Aul menjadi lima belas.
Istri : 3/15 X Rp. 45.000.000,. = Rp. 9.000.000,.
Ibu : 2/15 X Rp. 45.000.000,. = Rp. 6.000.000,.
Dua orang saudara
Perempuan kandung : 8/15 X Rp. 45.000.000,. = Rp. 24.000.000,.
Seorang saudara
Seibu : 2/15 X Rp. 45000.000,. = Rp. 6.000.000,.
Jumlah = Rp. 45.000.000,.
Masing- masing saudara
perempuan kandung : ½ X Rp. 24.000.000,. = Rp. 12.000.000,.


16. Pembagian menurut Ar Radd. Harta waris Rp. 18.000.000,- sementara ahli waris terdiri dari: istri, dua orang saudara seibu dan ibu. Tentukan bagian masing-masing.
Jawaban !
Istri : 1/4 X Rp. 18.000.000, = Rp. 4.500.000,
Sisa : Rp. 18.000.000, – Rp. 4.500.000,. = Rp. 13.500.00,
Jumlah = Rp. 18.000.000,

Ibu : 1/6
Dua orang saudara
Seibu : 1/3
K.P.K = 6
Ibu : 1/6 X 6 = 1
Dua orang saudara
Seibu : 1/3 X 6 = 2
Jumlah = 3

Dari enam di-Radd-kan menjadi tiga.
Ibu : 1/3 X Rp. 13.500.000, = Rp. 4.500.000,
Dua orang saudara
Seibu : 2/3 X Rp. 13.500.000, = Rp. 9.000.000,
Jumlah = Rp. 13.500.000,
Masing-masing
Saudara seibu : ½ X Rp. 9.000.000, = Rp. 4.500.000,


17. Gharawain yaitu dua masalah yang terang cara penyelesaiyannya. Cara pertama jika ahli waris terdiri dari: suami, ibu dan bapak. Sementara harta peninggalan Rp. 30.000.000,- hitunglah bagian masing-masing ahli waris.
Jawaban !
Suami : ½
Ibu : 1/3 dari sisa
Bapak : Ashobah
Suami : ½ X Rp. 30.000.000,. = Rp. 15.000.000,.
Sisa = Rp. 15.000.000,.
Jumlah = Rp. 30.000.000,.
Ibu : 1/3 X Rp. 15.000.000,. = Rp. 5.000.000,.
Bapak : Rp. 15.000.000,. – Rp 5.000.000,. = Rp. 10.000.000,.
Menurut ketentuan umum ibu mendapat 1/3 bagian, Karena orang yang meninggal itu tidak mempunyai anak, cucu atau saudara.
Jadi ibu mendapat : 1/3 X Rp. 12.000, = Rp. 4.000.
Didalam hal ini ( isteri yang meninggal), ibu mendapat sepertiga bagian dari sisa harta, yaitu sama dengan seper enam dari jumlah semua harta. Bapak yang mendapat sisa pembagian, sama bagiannya dengan dua perenam bagian dari jumlah semua harta.

18. Gharawain dengan cara kedua, jika ahli waris adalah istri, ibu dan bapak. Harta waris adalah Rp. 60.000.000,- hitunglah berapa bagian masing-masing ahli waris.
Jawaban !
Istri : ¼
Ibu : 1/3
Bapak : Ashabah
Istri : ¼ X Rp. 60.000.000,. = Rp. 15.000.000,.
Sisa :Rp. 60.000.000,.- Rp. 15.000.000,. = Rp. 45.000.000,.
Jumlah = Rp. 60.000.000,.
Ibu : 1/3 X Rp. 45.000.000,. = Rp. 15.000.000,.
Bapak : Rp. 45.000.000,.- Rp. 15.000.000,. = Rp. 30.000.000,.

19. Musyarakah terjadi bila ahli waris adalah suami, ibu, dua orang saudara seibu, dan saudara laki-laki kandung. Hitunglah bagian masing-masing bila harta waris Rp. 60.000.000.-.
Jawaban !

Suami : ½
Ibu : 1/6
Dua orang
saudara ibu : 1/3
Saudara laki-laki kandung : ‘Ashabah
K.P.K. = 6
Suami = ½ X 6 = 3
Ibu = 1/6 X 6= 1
Dua orang saudara
seibu = 1/3 X 6 = 2
Jumlah = 6
Suami = 3/6 X Rp. 60.000.000,. = Rp. 30.000.000,.
Ibu = 1/6 X Rp. 60.000.000,. = Rp. 10.000.000,.
Dua orang saudara
Seibu dan saudara
Sekandung = 2/6 X Rp. 60.000.000,. = Rp. 20.000.000,.
Jumlah = Rp. 60.000.000,.
Masing-masing dua orang saudara seibu
dan saudara laki-laki kandug = 1/4 X Rp. 20.000.000,. = Rp. 5.000.000,.

20. Akdariah terjadi bila ada kakek. Sehingga ahli waris adalah: suami, ibu, saudara perempuan kandung/ sebapak dan kakek. Bagainmana menurut pendapat Umar bin Khattab dan Ibnu Mas’ud untuk memecahkan masalah ini sehingga pembagiannya dapat diselesaikan dengan cara Aul.
Jawaban !
A. Menurut Umar bin Khattab.
Suami = ½
Ibu = 1/6
Saudara perempuan
kandung =½
Kakek =1/6
: K.P.K.= 6
Suami = ½ X 6 = 3
Ibu = 1/6 X6= 1
Saudara perempuan kandung = ½ X 6 = 3
Kakek = 1/6X6 = 1
Jumlah = 8
Dari enam di Aul menjadi delapan.

B. Menurut Ibnu Mas’ud.
Suami = ½
Ibu = 1/3
Seorang saudara
Peremouan kandung = ½
Kakek =1/6 (atas nama bagian tertentu, bukan atas nama Ashobah)
K.P.K = 6

Suami = ½ X 6 = 3
Ibu = 1/3 X 6 = 2

Seorang saudara perempuan
Kandung = ½ X 6 = 3

Kakek = 1/6 X 6 = 1
Jumlah = 9